Tuesday, 25 Rajab 1442 / 09 March 2021

Tuesday, 25 Rajab 1442 / 09 March 2021

Bahaya Banggakan Kemampuan Diri, Nyaris Sekutukan Allah SWT?

Ahad 17 Jan 2021 17:41 WIB

Rep: Fuji E Permana/ Red: Nashih Nashrullah

Membanggakan kemampuan diri sangat dekat dengan sekutukan Allah SWT. Mengingat Allah Ilustrasi.

Membanggakan kemampuan diri sangat dekat dengan sekutukan Allah SWT. Mengingat Allah Ilustrasi.

Foto: ANTARA FOTO/Jojon
Membanggakan kemampuan diri sangat dekat dengan sekutukan Allah SWT

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Manusia harus berhati-hati dengan penyakit sombong, nafsu, dan godaan setan yang tidak disadari. Misalnya tanpa disadari telah menyekutukan Allah SWT dengan kekuatan atau kemampuan diri sendiri.  

Dalam Kitab Al-Hikam yang ditulis Syekh Ibnu Atha'illah dijelaskan bahwa setengah dari tanda seseorang menyandarkan diri pada kekuatan amal usahanya, yaitu berkurangnya harapan terhadap rahmat dan karunia Allah SWT ketika berbuat kesalahan atau dosa.  

Mengutip terjemah Al-Hikam karya Ustadz Bahreisy dijelaskan bahwa tidak ada tempat untuk bersandar, berlindung, berharap kecuali Allah SWT. Allah SWT yang menghidupkan dan mematikan, tidak ada yang memberi dan menolak melainkan Allah SWT. 

Baca Juga

Manusia tidak ada daya untuk mengelak dari bahaya kesalahan. Manusia juga tidak memiliki kekuatan untuk berbuat amal baik kecuali dengan bantuan Allah SWT dan karunia serta rahmat-Nya.  

Sedangkan bersandar pada amal usaha itu berarti lupa pada karunia dan rahmat Allah SWT yang memberi taufik dan hidayah. Manusia yang hanya bersandar pada amal usahanya akhirnya pasti ujub dan sombong.  

Sebagaimana diketahui, manusia dilarang menyekutukan Allah SWT dengan berhala, batu, kayu, pohon, binatang dan manusia. Maka jangan pula menyekutukan Allah SWT dengan kekuatan atau kemampuan diri sendiri.  

Manusia jangan seolah-olah merasa sudah cukup kuat dan dapat berdiri sendiri tanpa pertolongan, rahmat, taufik, hidayah dan karunia Allah SWT. 

Maka manusia harus meneladani Nabi Sulaiman as saat melihat singgasana Ratu Bilqis pindah kehadapannya. Nabi Sulaiman as tidak menjadi sombong. Seperti dalam Alquran surat An-Naml ayat 40: 

فَلَمَّا رَآهُ مُسْتَقِرًّا عِنْدَهُ قَالَ هَٰذَا مِنْ فَضْلِ رَبِّي لِيَبْلُوَنِي أَأَشْكُرُ أَمْ أَكْفُرُ ۖ وَمَنْ شَكَرَ فَإِنَّمَا يَشْكُرُ لِنَفْسِهِ ۖ وَمَنْ كَفَرَ فَإِنَّ رَبِّي غَنِيٌّ كَرِيمٌ

"Sulaiman melihat singgasana itu terletak di hadapannya, iapun berkata: Ini termasuk kurnia Tuhanku untuk mencoba aku apakah aku bersyukur atau mengingkari (akan nikmat-Nya). Dan barang siapa yang bersyukur maka sesungguhnya dia bersyukur untuk (kebaikan) dirinya sendiri dan barangsiapa yang ingkar, maka sesungguhnya Tuhanku Mahakaya lagi Mahamulia." (QS An-Naml: 40)

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA