Thursday, 3 Ramadhan 1442 / 15 April 2021

Thursday, 3 Ramadhan 1442 / 15 April 2021

Mengapa Vaksinasi Covid-19 Perlu Menurut Islam? 

Ahad 17 Jan 2021 11:00 WIB

Red: Nashih Nashrullah

Vaksinasi Covid-19 merupakan bagian ikhtiar menurut Islam. Ilustrasi vaksinasi

Foto:
Vaksinasi Covid-19 merupakan bagian ikhtiar menurut Islam

Setelah virus dikembangbiakan kemudian dimatikan (inactivated), lalu  diproses pensucian dari najis. Yaitu virus dipisahkan dari sel. Selanjutnya diultrafiltrasi sehingga memisahkan virus dengan sel dan media.

Selanjutnya virus yang sudah dimurnikan itu kembali disaring dengan filtrasi membran sebuah penyaringan yang sangat kecil dengan diameter lubang 0,2 dalton sehingga benar-benar hanya virus saja yang dapat melewati penyaringan ini. 

Terakhir, virus yang sudah dimurnikan dari sel dicampurkan dengan water for injection (air murni) sebesar 930 sampai 940 liter dalam wadah 1000 liter. Hal ini berarti 93 persen-94 persen dari 1000 liter itu adalah air dan sisanya virus dan sejumlah bahan kimia murni (sintetik).

Ini proses mensucikan virus dengan menambahkan air suci dan mensucikan sampai lebih dua qullah. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW: إذا كان الماء قلتين لم يحمل الخبث “Jika air berjumlah dua kulah, maka tidak mengandung kotoran/najis.” (HR Abu Dawud). 

Vaksin corona sinovac dinyatakan halal karena media pertumbuhan yang digunakan dalam proses produksi vaksin sama sekali tidak menggunakan unsur yang berasal dari babi dan turunannya atau bahan yang bersumber dari unsur tubuh manusia (juz’un min al-insan). 

Tentu program vaksinasi corona sinovic merupakan salah satu ikhtiyar manusia untuk mencegah penularan Covid-19. Namun tetap ini hanya upaya manusia sedangkan yang menentukan segalanya adalah Allah SWT. Juga kita sebenarnya masih menginginkan vaksi merah putih, yaitu vaksin yang diproduksi putra bangsa sehingga selain mencegah menularan Covid-19 juga kebanggaan seluruh anak bangsa Indonesia. 

Demikian juga vaksin corona sinovac bukan yang terbaik dari semua vaksin karena menurut Kepala BPOM bahwa hasil analisis interim uji klinis di Bandung menunjukkan efikasi Sinovac sebesar 65,3 persen.

Namun demikian, saat belum ditemukan vaksin lain yang lebih efektif maka demi mencegah bahaya yang lebih besar kita perlu melakukan vaksinasi corona sinovac kepada mayoritas penduduk. Langkah ini sesuai dengan kaidah yang menyatakan, mala yudraku kulluhu la yutraku kulluhu (sesuatu yang tak dapat diperoleh semuanya makan jangan ditinggalkan semuanya).

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA