Saturday, 22 Rajab 1442 / 06 March 2021

Saturday, 22 Rajab 1442 / 06 March 2021

Parma Dihantam Krisis Cedera, Ini Kata Pelatih

Ahad 17 Jan 2021 05:07 WIB

Red: Yudha Manggala P Putra

Reaksi pelatih Parma Roberto D aversa

Reaksi pelatih Parma Roberto D aversa

Foto: EPA-EFE/ELISABETTA BARACCHI
Pelatih Parma Roberto D'aversa mengatakan krisis cedera menjadi tantangan berat.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pelatih Parma Roberto D’aversa mengakui hantaman krisis cedera dialami timnya menjadi tantangan berat saat ini. Mereka harus benar benar bersiasat menghadapi Sasuollo, di Mapei Stadium–Citta del Tricolore, Ahad (17/1) malam nanti.

Itu tidak akan mudah. Parma bahkan tidak memiliki pemain bertahan yang bisa diturunkan saat ini.

“Satu-satunya pemain bertahan kami adalah Simone Lacoponi dan bahkan dia baru sedikit berlatih bersama tim, jadi sampai kemarin, kita mungkin tidak akan menurunkannya sama sekali nanti," kata D'aversa dikutip Footbal Italia, Ahad.

Tanpa pemain bertahan, D'aversa tentu harus memutar otak. Ia pun melirik kemungkinan menurunkan pemain muda atau menempatkan sejumlah pemain tengah di barisan belakang.  

“Saat ini, kami tidak memiliki bek untuk bermain. Saya bisa menyiasatinya dengan sejumlah pemain tengah, melirik sejumlah pemain dari tim junior kami," ujar dia.

Terlepas dari keluhannya tersebut, D'aversa mengaku tetap mencoba berpikir positif. Menurutnya Parma tetap harus bermain mengejar hasil terbaik. "Saya tidak mau mencari alibi juga, kami harus berpikir positif dan mendapat hasil terbaik," ujar dia.

Parma kehilangan sejumlah pemain kunci, salah satunya Roberto Inglese yang sedang berduka atas keluarganya, dan Hernani yang diskors.

Daftar cedera pemainnya sendiri saat ini cukup panjang. Di antaranya Juraj Kucka, Alberto Grassi, Yann Karamoh, Bruno Alves, Yordan Osorio, Vincent Laurini, Botond Balogh, Riccardo Gagliolo, dan Hans Nicolussi Caviglia.

Krisis ini menurut D,aversa memang menyulitkan dan menurunkan mental. Namun, menurutnya tidak ada obat lain selain kemenangan.

“Ada momen ketika setelah kalah lima kali beruntun, kepercayaan diri anjlok dan Anda harus membangun mentalitas, selain taktik dan kebugaran pemain. Obat terbaik untuk itu adalah kemenangan," ujar dia.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA