Monday, 5 Syawwal 1442 / 17 May 2021

Monday, 5 Syawwal 1442 / 17 May 2021

Kasus Covid-19 di China Kian Bertambah

Jumat 15 Jan 2021 13:51 WIB

Rep: Fergi Nadira/ Red: Christiyaningsih

 Warga memakai masker saat menyeberang jalan di Beijing pada Selasa, 3 November 2020. Mayoritas masyarakat di ibu kota China masih mengenakan masker di area luar ruangan meski China sebagian besar telah mengendalikan wabah, sementara virus corona masih melonjak.

Warga memakai masker saat menyeberang jalan di Beijing pada Selasa, 3 November 2020. Mayoritas masyarakat di ibu kota China masih mengenakan masker di area luar ruangan meski China sebagian besar telah mengendalikan wabah, sementara virus corona masih melonjak.

Foto: AP/Ng Han Guan
Komisi Kesehatan Nasional China menyebut kasus Covid-19 melonjak di China utara

REPUBLIKA.CO.ID, BEIJING - Komisi Kesehatan Nasional China mengatakan lebih dari 1.000 orang sedang dalam perawatan Covid-19 hingga Jumat (15/1) waktu setempat. Kasus positif Covid-19 di bagian utara negara tersebut kian meningkat setelah beberapa bulan mengalami penurunan jumlah kasus.

Tercatat 1.001 pasien dalam perawatan untuk penyakit dari virus corona tipe baru tersebut. NHC merinci 26 di antaranya berada dalam kondisi serius, sementara 144 total kasus baru telah dicatat selama 24 jam terakhir.

Provinsi Hebei menyumbang 90 kasus baru, sementara provinsi Heilongjiang lebih jauh ke utara negara melaporkan 43 kasus baru. Sebanyak sembilan kasus didapatkan dari luar negeri, sementara penularan lokal juga terjadi di wilayah selatan Guangxi dan provinsi utara Shaanxi.

Penularan ini menggambarkan kemampuan virus untuk menyebar ke negara berpenduduk 1,4 miliar itu meskipun telah diberlakukan kebijakan karantina, pembatasan perjalanan, dan pemantauan elektronik warga. Meskipun tidak ada laporan kekurangan tempat tidur rumah sakit, Hebei telah mulai membangun pusat karantina baru di luar ibu kota provinsi Shijiazhuang untuk mengantisipasi kebutuhan lebih banyak kasus yang mungkin terjadi.

Shijiazhuang juga telah menyumbang sebagian besar kasus di provinsi tersebut sejak tahun baru. Wilayah itu telah ditempatkan di bawah karantina bersama dengan kota Xingtai dan Langfang. Kebijakan lockdown di daerah tersebut merupakan sebuah langkah yang sebagian besar membatasi lebih dari 20 juta orang ke luar rumah mereka selama beberapa hari mendatang.

Secara keseluruhan, China telah melaporkan 87.988 kasus infeksi Covid-19. Sementara tercatat 4.635 kematian akibat virus yang berasal dari salah satu kota di China, Wuhan.

Lonjakan kasus di China utara terjadi ketika para ahli Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) bersiap untuk mengumpulkan data tentang asal-usul pandemi. Tim WHO tiba pada Kamis (14/1) di pusat kota Wuhan tempat virus corona pertama kali terdeteksi pada akhir 2019.

Investigasi yang sensitif secara politis terjadi di tengah ketidakpastian tentang apakah Beijing mungkin mencoba mencegah penemuan itu atau tidak. Kunjungan tim WHO ini telah disetujui oleh pemerintah Presiden Xi Jinping setelah perselisihan diplomatik berbulan-bulan yang memicu keluhan publik yang tidak biasa oleh kepala WHO.

Para peneliti akan dikarantina selama 14 hari dan akan bekerja dengan para ahli China melalui konferensi video saat berada di karantina. Para ilmuwan menduga virus yang telah menewaskan lebih dari 1,9 juta orang sejak akhir 2019 itu menular ke manusia dari kelelawar atau hewan lain, kemungkinan besar di barat daya China.

Partai Komunis yang berkuasa tersengat oleh keluhan bahwa mereka membiarkan penyakit itu menyebar. China mengatakan virus itu berasal dari luar negeri, mungkin dari makanan laut impor. Akan tetapi para ilmuwan internasional menolak klaim itu.

sumber : AP
BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA