Kamis 14 Jan 2021 18:02 WIB

Korsel Minta Dukungan Qatar Bebaskan Kapal yang Disita Iran

Negosiasi pembebasan kapal yang dilakukan di Teheran tidak menciptakan kemajuan

Rep: Lintar Satria/ Red: Christiyaningsih
Kapal tanker Korsel Hankuk Chemi dikawal kapal milik Garda Revolusi Iran, Senin (4/1).
Foto: EPA
Kapal tanker Korsel Hankuk Chemi dikawal kapal milik Garda Revolusi Iran, Senin (4/1).

REPUBLIKA.CO.ID, SEOUL -- Wakil Menteri Luar Negeri Korea Selatan (Korsel) Choi Jong-kun meminta dukungan Qatar untuk membebaskan kapal Korsel yang disita Iran. Kementerian Luar Negeri mengatakan permintaan tersebut disampaikan saat Choi mengunjungi Doha pekan ini.

Permintaan Choi disampaikan saat melakukan pertemuan terpisah dengan Wakil Perdana Menteri dan Menteri Luar Negeri Mohammed bin Abdulrahman bin Jassim Al Thani dan Menteri Negara urusan Luar Negeri Soltan bin Saad Al-Muraikh. Dengan keduanya di Doha, Choi membahas hubungan bilateral Korsel-Qatar.

Baca Juga

Kunjungan ini dilakukan dalam rangkaian kedatangan Choi ke Iran untuk membebaskan kapal tanker yang disita Teheran atas tuduhan pencemaran lingkungan 4 Januari lalu. Negosiasi yang dilakukan di Teheran tidak menciptakan kemajuan.

"Wakil Menteri Choi meminta dukungan maksimal yang memungkinkan dari Qatar untuk menyelesaikan penyitaan kapal Korsel yang dilakukan Iran baru-baru ini," kata Kementerian Luar Negeri Korsel seperti dikutip kantor berita Yonhap, Kamis (14/1).

Kementerian Luar Negeri mengatakan Choi juga membahas isu bilateral lainnya dengan pejabat Qatar. Terutama dalam mengenai memperluas kerja sama di bidang energi dan sektor perkapalan.

Dalam pertemuannya dengan Menteri Energi Qatar Saad Sherida al-Kaabi, kedua belah pihak sepakat untuk mendorong kerja sama ekonomi. Choi mencatat kesepakatan antara produsen kapal Korea dan Qatar Petroleum untuk membangun kapal yang membawa liquefied natural gas (LNG) mencerminkan kepercayaan yang solid antar kedua negara.

Dalam pertemuannya dengan pejabat tinggi urusan luar negeri Qatar, Choi juga memuji deklarasi Arab Saudi dan negara-negara Arab Teluk untuk memperbaiki hubungan dengan Qatar.

Kementerian Luar Negeri Korsel mengatakan Iran mengajukan untuk menggunakan aset mereka di Korsel yang dibekukan sanksi Amerika Serikat (AS) untuk membeli mobil ambulans. Di saat bersamaan kedua negara merundingkan cara memperluas pertukaran kemanusiaan.

Kementerian Luar Negeri Korsel membuat pernyataan yang bertentangan dengan klaim kepala staf presiden Iran, Mahmoud Vaezi. Ia mengatakan Teheran menolak proposal Seoul untuk menggunakan aset Iran di Korsel senilai tujuh miliar dolar AS untuk membeli mobil ambulans.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement