Tuesday, 25 Rajab 1442 / 09 March 2021

Tuesday, 25 Rajab 1442 / 09 March 2021

Studi: Workaholic Berisiko Tinggi Alami Depresi

Kamis 14 Jan 2021 15:49 WIB

Rep: Gumanti Awaliyah/ Red: Nora Azizah

'Workaholic' adalah mereka yang bekerja di atas tujuh jam dengan berbagai alasan (Foto: ilustrasi)

'Workaholic' adalah mereka yang bekerja di atas tujuh jam dengan berbagai alasan (Foto: ilustrasi)

Foto: Pixabay
'Workaholic' adalah mereka yang bekerja di atas tujuh jam dengan berbagai alasan.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Sebuah studi baru menemukan bahwa seorang yang workaholic mungkin lebih berisiko mengalami penyakit mental dan fisik. Penelitian dari HSE University itu menyebut para workaholic rentan mengalami depresi dan masalah tidur.

Workaholic didefinisikan sebagai seorang yang bekerja selama tujuh jam atau lebih dengan berbagai alasan. Ada yang mengejar ambisi, bekerja karena tekanan atasan, atau bekerja untuk melampiaskan masalah rumah tangga.

Studi ini menggunakan model Job Demand Control Support dengan melibatkan 187 orang dewasa di Prancis. Para ahli membagi pekerja menjadi empat kategori berbeda berdasarkan tingkat kendali dan tuntutan pekerjaan. Dari keempatnya, kelompok “Job strain” lebih berisiko mengembangkan gangguan yang berhubungan dengan stres.

Kategori “job strain” mengacu pada pekerjaan yang memiliki tuntutan tinggi, namun para pekerjanya tidak memiliki kendali untuk memperhatikan kesehatannya. Ini dapat mencakup petugas kesehatan yang bekerja di ruang IGD rumah sakit. Pekerja yang aktif juga berisiko lebih besar dibandingkan dengan para pekerja yang pasif.

Menurut penelitian tersebut, perusahaan yang memberikan tuntutan dan beban kerja yang tinggi namun tidak aware akan kesehatan pekerja bisa memicu berbagai masalah kesehatan fisik juga mental. Mulai dari kecemasan dan depresi, masalah tidur, serta kemiskinan.

Melansir laman Slashgear pada Kamis (14/1), orang yang workaholic juga menghadapi risiko depresi dua kali lipat dibandingkan dengan orang tidak terlalu workaholic. Selain itu, penelitian tersebut menemukan bahwa wanita memiliki risiko hampir dua kali lipat untuk mengembangkan workaholic dibandingkan pria.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA