Friday, 21 Rajab 1442 / 05 March 2021

Friday, 21 Rajab 1442 / 05 March 2021

Persahabatan Syekh Ali Jaber dengan Akbar Sang Pemulung

Kamis 14 Jan 2021 11:27 WIB

Rep: Bayu Adji/ Red: Elba Damhuri

Syekh Ali Jaber (kanan) berbincang dengan Muhammad Al Gifari (kiri) saat pertemuannya di sela acara Milad Yayasan Nuurun Nisaa di Cihanjuang, Kabupaten Bandung Barat, Rabu (11/10). Dalam pertemuannya tersebut, Syekh Ali Jaber berencana memberangkatkan Umrah Muhammad Al Gifari atau yang akrab disapa Akbar dan mengangkatnya menjadi anak angkat. Foto: Abdan Syakura/Republika

Syekh Ali Jaber (kanan) berbincang dengan Muhammad Al Gifari (kiri) saat pertemuannya di sela acara Milad Yayasan Nuurun Nisaa di Cihanjuang, Kabupaten Bandung Barat, Rabu (11/10). Dalam pertemuannya tersebut, Syekh Ali Jaber berencana memberangkatkan Umrah Muhammad Al Gifari atau yang akrab disapa Akbar dan mengangkatnya menjadi anak angkat. Foto: Abdan Syakura/Republika

Foto: ABDAN SYAKURA/REPUBLIKA
Innalillahi wa inna ilaihi rajiun, telah wafat Syekh Ali Jaber

REPUBLIKA.CO.ID, GARUT -- Syekh Ali Jaber meninggal dunia hari ini. Indonesia berduka cita mendalam atas kepergian sang pendakwah yang dikenal teduh dan menenangkan itu.

Banyak kenangan tentang Syekh Ali Jaber ini. Salah satunya, saat Syekh Ali Jaber begitu peduli atas nabis seorang bocah pemulung yang membaca Alquran di Jalan Braga, Bandung.

Sosok pemulung itu adalah Muhammad Gifari Akbar, pemuda berusia 16 tahun yang berasal dari Kampung Sodong, Kelurahan Muarasanding, Kecamatan Garut Kota, Kabupaten Garut.

Di mata Syekh Ali, Akbar adalah seorang pemuda yang istiqomah. Bukan tanpa alasan ia menilai Akbar demikian. Menurut dia, potret Akbar yang sedang mengaji yang tersebar dapat menunjukkannya.

"Saya melihat sosok Akbar ketika foto viral, seorang pemulung yang istiqamah, mengaji," kata dia, ketika berkunjung ke rumah keluarga Akbar di Kabupaten Garut, Rabu (11 November 2020) lalu.

Syekh Ali mengatakan banyak orang yang posisinya lebih nyaman atau mapan dari Akbar belum tentu bisa istiqamah. Apalagi ketika orang itu sedang stres. Jangankan mengaji, sholat yang sifatnya wajib pun dapat ditinggalkan.   

Sementara Akbar, di mata ulama asal Madinah itu, dalam kesusahannya tetap mau membaca Alquran. "(Akbar) jalan kaki berpuluh kilo, tapi masih bisa jaga sholat, baca Alquran. Bahkan, ketika dia lapar dan belum kecukupan makanan, dia ganti untuk menutupi kelaparannya (dengan) fokus mengaji. Setelah itu dia merasa kenyang. Ini luar biasa dan harus dibangkitkan kepada pemuda-pemudi Indonesia," kata dia.  

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA