Sunday, 16 Rajab 1442 / 28 February 2021

Sunday, 16 Rajab 1442 / 28 February 2021

Jack Ma dan Anomali China

Kamis 14 Jan 2021 05:40 WIB

Red: Nidia Zuraya

Miliarder China Jack Ma

Foto:
Hurun Rich List menyebut ada 257 miliarder baru di China sepanjang 2020.

Jack Ma kesal. Dia merasa sistem keuangan tradisional menghalangi bisnis fintech yang dikelolanya. Dia melihat realitas bisnis modern yang serba digital tak mendapat perlakuan yang tepat.

Kemudian, 23 Oktober dalam sebuah forum di Shanghai, Jack Ma menumpahkan unek-uneknya terhadap lembaga keuangan tradisional yang disebutnya bagai pegadaian.

Dia juga menyebut artikulasi Beijing dalam "mencegah risiko keuangan sistemik” sebagai berlebihan karena menghambat inovasi. Dia menilai kerangka regulasi keuangan yang tengah berlaku yang dikenal sebagai Basel Accords bukan "obat" yang tepat bagi sektor keuangan China. Kritik itu dia sampaikan di depan mata Wakil Presiden China Wang Qishan.

“Inovasi tanpa mau mengambil risiko itu adalah inovasi yang mencekik,” kata dia.

Presiden XI Jinping terusik. Kali ini Xi menilai Jack Ma sudah kelewatan. Ma yang seperti konglomerat-konglomerat China lainnya adalah anggota Partai Komunis pun dipanggil untuk menjelaskan arti ucapannya.

Tindakan keras diambil, tak hanya kepada Ant Group, melainkan juga induk utamanya Alibaba yang diselidiki atas tudingan monopoli. Go public Ant Group yang pernah disanjung sebagai citra ideal teknologi China dan bakal menjadi IPO terbesar di dunia, dihentikan pada saat-saat terakhir.

Ant Goup juga diperintahkan mengubah model bisnisnya, bahkan mengancam akan dinasionalisasi. Yang paling dramatis adalah Jack Ma tak pernah muncul lagi di publik. Harga saham Alibaba terus tergerus sampai memangkas kekayaan Jack Ma sehingga tak lagi menjadi orang paling kaya di China.

 

sumber : Antara
BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA