Wednesday, 7 Jumadil Akhir 1442 / 20 January 2021

Wednesday, 7 Jumadil Akhir 1442 / 20 January 2021

Alasan Anggota Partai Republik Dukung Pemakzulan Trump

Kamis 14 Jan 2021 04:30 WIB

Rep: Kamran Dikarma/ Red: Teguh Firmansyah

Presiden Donald Trump

Presiden Donald Trump

Foto: AP Photo/Evan Vucci
Trump sejatinya bisa mencegah agar gerombolan tak

REPUBLIKA.CO.ID, WASHINGTON -- Sejumlah anggota Kongres dari Partai Republik mendukung pemakzulan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump. Mereka menilai Trump bertanggung jawab atas kerusuhan dan serangan yang terjadi di Capitol Hill pekan lalu.

"Presiden AS memanggil gerombolan ini, mengumpulkan massa, dan menyalakan api serangan ini. Semua yang terjadi selanjutnya adalah perbuatannya. Semua ini tidak akan terjadi tanpa Presiden," kata anggota Kongres dari Partai Republik Liz Cheney dalam sebuah pernyataan pada Selasa (12/1).

Cheney menempati urutan ketiga dalam kepemimpinan Partai Republik. Dia berpendapat, Trump bisa mencegah dan dengan paksa melakukan intervensi untuk menghentikan aksi penggerudukan Gedung Capitol oleh para pendukungnya. "Dia (Trump) tidak melakukannya. Tidak pernah ada pengkhianatan yang lebih besar oleh Presiden AS dan sumpahnya kepada Konstitusi," ujarnya.

Anggota Kongres dari Partai Republik lainnya Norma Torres mendesak anggota partainya memberikan suara untuk memakzulkan Trump. "(Wakil Presiden Mike Pence) mereka ingin menggantung Anda. Anda memiliki seluruh detail keamanan untuk melindungi Anda, Anda dengan cepat dievakuasi. Saya tidak. Kami terdampar dengan gerombolan yang marah. Sembuhkan luka kami, minta Amandemen ke-25 (Konstitusi)," kata Torres.

Anggota Kongres dari Partai Republik John Katko mengatakan dia akan mendukung pemakzulan Trump. Menurutnya, tak dapat diabaikan bahwa Trump mendorong aksi kerusuhan di Capitol Hill. Dia menyebut p Trump telah dengan sengaja mempromosikan teori tak berdasar bahwa ada kecurangan dalam pemilu presiden lalu.

"Presiden menciptakan lingkungan yang mudah terbakar dari informasi yang salah, pencabutan hak, dan perpecahan. Ketika ini terwujud dalam tindakan kekerasan pada 6 Januari, dia menolak untuk segera dan dengan paksa membatalkannya, menempatkan nyawa yang tak terhitung dalam bahaya," kata Katko.

sumber : AP/Reuters
BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA