Monday, 19 Rabiul Awwal 1443 / 25 October 2021

Monday, 19 Rabiul Awwal 1443 / 25 October 2021

Survei Kemenag: Mayoritas Umat Beragama Siap Divaksinasi

Rabu 13 Jan 2021 18:56 WIB

Rep: Muhyiddin/ Red: Nashih Nashrullah

Survei Kemenag juga ungkap penolakan umat beragama atas vaksinasi Vaksin (ilustrasi)

Survei Kemenag juga ungkap penolakan umat beragama atas vaksinasi Vaksin (ilustrasi)

Foto: AP Photo/LM Otero
Survei Kemenag juga ungkap penolakan umat beragama atas vaksinasi

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Vaksinisasi Covid-19 mendapat respons yang beragam dari masyarakat Indonesia. Dalam penelitian terbaru yang dilakukan Puslitbang Bimas Agama dan Layanan Keagamaan, Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama (Kemenag), banyak umat beragama yang siap untuk divaksin. Kendati demikian, tidak sedikit juga yang menolak atau ragu-ragu. 

Kepala Badan Litbang dan Diklat Kemenag, Prof Ahmad Gunaryo menjelaskan, survei daring pada 22-30 Desember 2020 tersebut berhasil mengumpulkan 2.610 pendapat responden dari 34 provinsi. Survei ini dilakukan untuk mengetahui sikap dan tindakan umat beragama terkait Covid-19, vaksin dan vaksinasi.

Baca Juga

Dengan accidental sampling yang non-probabilitas, survei ini tetap dapat memenuhi tingkat sebaran yang sebangun dengan komposisi jumlah penduduk dan pemelukan agama di Indonesia. Lebih jauh, menurut dia, ada penguatan informasi kualitatif juga dengan mewawancara 30 tokoh pemuka agama di 10 lokasi.

“Ditemukan, responden umumnya 54,37 persen siap divaksin Covid-19, di tengah pandemi yang kian mengkhawatirkan ini,” kata Prof Gunaryo dalam keterangan tertulis yang diterima Republika.co.id, Rabu (13/1).  

Namun, menurut dia, ada juga yang menolak (9,39 persen) dan memilih belum memutuskan (36,25 persen). Alasan mereka pun cukup beragam. Misalnya, responden yang belum memutuskan beralasan masih akan menunggu dan melihat, sambil mencari tahu detail vaksin dan vaksinasi yang dilakukan pemerintah.

“Yang menolak, utamanya ragu atas keamanan vaksin. Sedangkan yang beralasan agama hanya 9,27 persen,” jelas Prof Gunaryo.  

Survei ini juga merekomendasikan penguatan edukasi publik terkait vaksin dan vaksinasi. Selain penjelasan medis yang transparan oleh dokter, menurut Prof Gunaryo, edukasi dalam hal keagamaan juga perlu diintensifkan terutama oleh pemuka agama.

Dia mengatakan, peran pemuka agama dan ormas keagamaan sangat strategis karena mereka sumber informasi paling dipercaya publik. Karena itu, menurut dia, untuk meningkatkan penerimaan masyarakat akan vaksinasi Covid-19 ada beberapa hal layak dipertimbangkan.

Pertama, perkembangan aktual dan faktual pandemi Covid-19 perlu diinformasikan ke publik secara proporsional. Karena, semakin tahu kondisi dan merasa khawatir dengan kondisi pandemi, maka masyaraakt akan semakin menerima vaksinasi Covid-19.

Kedua, pemerintah juga perlu menjaga kepercayaan publik. Ketiga, masyarakat juga perlu didorong untuk terus menaati protokol kesehatan (3M). “Responden yang merasa menaati 3M cenderung siap ikut vaksinasi,” ucapnya.

Terakhir, tambah dia, juga perlu transparansi, sosialisasi, dan penjelasan yang lebih lengkap terkait vaksinasi Covid-19 tersebut. Karena, hal ini menjadi pangkal dari ketidaksiapan dan keraguan masyarakat. Sedangkan kejelasan akan memicu kesiapan dari masyarakat.   

 

 

Yuk koleksi buku bacaan berkualitas dari buku republika ...
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA