Saturday, 3 Zulhijjah 1443 / 02 July 2022

Vaksin Percepat Kekebalan Kelompok? Ini Kata Epidemiolog

Rabu 13 Jan 2021 13:55 WIB

Rep: Arie Lukihardianti/ Red: Yudha Manggala P Putra

Petugas kesehatan menyiapkan vaksin saat simulasi pelayanan pelaksanaan vaksinasi Covid-19.

Petugas kesehatan menyiapkan vaksin saat simulasi pelayanan pelaksanaan vaksinasi Covid-19.

Foto: ABDAN SYAKURA/REPUBLIKA
Epidemiolog Unpad mengatakan vaksin dapat mengurangi angka kematian dan kesakitan.

REPUBLIKA.CO.ID, BANDUNG -- Pakar epidemiologi memastikan vaksin dapat mengurangi angka kesakitan atau kematian akibat Covid-19 dalam waktu cepat. Namun, untuk mencapai kekebalan kelompok (herd immunity), dibutuhkan waktu tidak sebentar.

“Yang pasti, paling cepat, adalah vaksin dapat mengurangi angka kesakitan dan kematian,” ujar Epidemiolog Universitas Padjadjaran (Unpad), dr Panji Fortuna Hadisoemarto, dalam siaran pers Humas Jabar, Rabu (13/1).

Panji mengatakan, dengan angka kesakitan yang berkurang, diharapkan tingkat keterisian tempat tidur di rumah sakit rujukan dan rumah sakit darurat tetap terjaga di level aman. Saat ini tingkat keterisian tempat tidur  di kabupaten/kota sudah di atas 80 persen atau dalam level kritis.

“Jika angka kesakitan berkurang, pasien yang dirawat pun berkurang sehingga BOR (bed occupancy rate) tidak akan pernah penuh,” katanya.

Menurut Panji, ada pandangan keliru di masyarakat bahwa vaksin dapat membentuk kekebalan kelompok dalam waktu cepat. Lebih keliru lagi, vaksin disamakan dengan obat yang dapat menyembuhkan penyakit Covid-19.

“Kekebalan kelompok paling tidak butuh waktu setahun dari sekarang karena harus mencakup 70 persen penduduk,” katanya.  

Kekebalan kelompok, kata dia, tergantung dari tiga keadaan. Pertama, seberapa tinggi penularan setelah vaksinasi. “Vaksin dapat mencegah sakit tapi tidak mencegah penularan. Kalau penularan (masif) terjadi, herd immunity tidak akan terjadi,” katanya.

BPOM menyatakan efikasi vaksin Sinovac 65,3 persen. Menurutnya, efikasi beda dengan efektivitas karena efikasi diukur pada tingkat uji klinis. Dalam kenyataannya, jika seseorang punya penyakit penyerta (komorbid) sangat mungkin efikasi 65,3 persen tidak tercapai.

“Mungkin lebih rendah, tidak mungkin lebih tinggi. Tapi yang diharapkan tidak akan menurun terlalu jauh,” katanya. 

 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA