Sunday, 3 Zulqaidah 1442 / 13 June 2021

Sunday, 3 Zulqaidah 1442 / 13 June 2021

Pemkot Bogor Cari Hotel untuk Isolasi Pasien OTG

Selasa 12 Jan 2021 19:55 WIB

Rep: Shabrina Zakaria/ Red: Yudha Manggala P Putra

Petugas berdiri depan kamar Pusat Isolasi Penanganan dan Perawatan Pasien COVID-19 asal Kota Bogor di Pusat Pengembangan Sumber Daya Manusia (PPSDM) Badan Narkotika Nasional (BNN), Lido, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Senin (7/9/2020). Pemerintah Kota Bogor bekerja sama dengan PPSDM BNN melakukan sinergi penanganan dan perawatan pasien COVID-19 tanpa gejala atau gejala ringan dengan menyediakan fasilitas sebanyak 22 kamar dan 122 tempat tidur sebagai antisipasi meningkatnya jumlah pasien terkonfirmasi positif COVID-19 di wilayah zona merah Kota Bogor.

Petugas berdiri depan kamar Pusat Isolasi Penanganan dan Perawatan Pasien COVID-19 asal Kota Bogor di Pusat Pengembangan Sumber Daya Manusia (PPSDM) Badan Narkotika Nasional (BNN), Lido, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Senin (7/9/2020). Pemerintah Kota Bogor bekerja sama dengan PPSDM BNN melakukan sinergi penanganan dan perawatan pasien COVID-19 tanpa gejala atau gejala ringan dengan menyediakan fasilitas sebanyak 22 kamar dan 122 tempat tidur sebagai antisipasi meningkatnya jumlah pasien terkonfirmasi positif COVID-19 di wilayah zona merah Kota Bogor.

Foto: Antara/Arif Firmansyah
Pemkot Bogor sedang berkomunikasi dengan PHRI untuk hotel tempat isolasi OTG.

REPUBLIKA.CO.ID, BOGOR -- Penggunaan gedung PPSDM BNN Lido sebagai tempat isolasi pasien Covid-19 berstatus tanpa gejala (OTG) berakhir Maret mendatang. Pemkot Bogor kemungkinan tidak memperpanjang kerja sama dengan BNN Lido.

"Untuk Lido habis Maret nanti, kemungkinan kita cari opsi lain," kata Wakil Wali Kota Bogor, Dedie A. Rachim, Selasa (12/1).

Saat ini, Pemkot Bogor tengah mencari hotel yang bisa digunakan untuk tempat isolasi pasien OTG. Berdasarkan keterangan Dedie, hotel rencananya digunakan terletak di wilayah Kecamatan Bogor Utara. "InsyaAllah sudah ada di wilayah Bogor Utara, sekarang kita sedang membangun komunikasi," ujarnya.

Meski demikian, Pemkot Bogor belum bisa menyebutkan hotel mana bakal ditunjuk. Sebab, hingga saat ini masih terdapat kendala.

Salah satunya terkait biaya sewa kamar per-malam. "Kalau mereka kan itung-itungannya dalam sehari bisa disewakan dua kali kamar. Kalau kita kan maunya flat, hitungan per-hari. Jadi mereka mau berhitung kumulatif bulanan," jelas Dedie.

Rencananya, jumlah kamar digunakan saat hotel aktif 60 hingga 70 kamar. Di PPSDM Lido, jumlah kapasitas 100 tempat tidur. "Mudah-mudahan ini gak berubah lagi. Karena kapasitasnya lumayan ya, 60 sampai 70 kamar, jadi mudah-mudahan ini bisa direalisasikan," tutup Dedie.

Terpisah, Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Kota Bogor, Yuno Abeta Lahay mengatakan, PHRI masih menjalin komunikasi dengan Pemkot Bogor terkait rencana penggunaan hotel sebagai tempat isolasi pasien OTG. “Iya, ini masih tetap komunikasi intens,” kata Yuno melalui telepon selulernya.

Yuno menjelaskan, masih banyak hal dijadikan pertimbangan terkait rencana penggunaan hotel tersebut. Di antaranya, keamanan karyawan, harga, dan pandangan masyarakat setelah dijadikan tempat isolasi pasien Covid-19.  Namun, PHRI Kota Bogor akan berkaca pada hotel-hotel di Jakarta yang sudah terlebih dulu dijadikan tempat karantina.

“Ya, image after contract itu yang susah. Tapi harusnya nggak masalah. Jakarta juga kan brand-brand besar yang jadi pusat karantina,” ujarnya.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA