Monday, 4 Zulqaidah 1442 / 14 June 2021

Monday, 4 Zulqaidah 1442 / 14 June 2021

KNKT: Pesawat PK-CLC Diduga tidak Meledak Sebelum Bentur Air

Selasa 12 Jan 2021 11:48 WIB

Rep: Rahayu Subekti/ Red: Friska Yolandha

Tim investigasi KNKT melakukan pemeriksaan bagian pesawat Sriwijaya Air SJ 182 di Dermaga JICT 2, Jakarta, Selasa (12/1). KNKT menerima sejumlah komponen pesawat Sriwijaya Air SJ 182 yang jatuh di perairan Kepulauan Seribu. Komponen pesawat yang sudah bisa diidentifikasi mulai dari ekor pesawat, beberapa instrumen pesawat seperti GPWS dan radio altimeter, hingga peluncur darurat. Foto : Edwin Putranto/Republika

Tim investigasi KNKT melakukan pemeriksaan bagian pesawat Sriwijaya Air SJ 182 di Dermaga JICT 2, Jakarta, Selasa (12/1). KNKT menerima sejumlah komponen pesawat Sriwijaya Air SJ 182 yang jatuh di perairan Kepulauan Seribu. Komponen pesawat yang sudah bisa diidentifikasi mulai dari ekor pesawat, beberapa instrumen pesawat seperti GPWS dan radio altimeter, hingga peluncur darurat. Foto : Edwin Putranto/Republika

Foto: Edwin Dwi Putranto/Republika
Terekamnya data hingga ketinggian 250 kaki menunjukkan sistem pesawat masih berfungsi

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) mengungkapkan, ada kemungkinan pesawat Sriwijaya Air nomor registrasi PK-CLC nomor penerbangan SJ 182 yang jatuh pada 9 Januari 2021 tidak meledak sebelum membentur air. Ketua KNKT Soerjanto Tjahjono mengatakan, hal tersebut dimungkinkan sesuai dari data lapangan yang didapat KNKT dari KRI Rigel.

Dia mengatakan, dari data KRI Rigel, sebaran wreckage memiliki besaran dengan lebar 100 meter dan panjang 300 sampai 400 meter. "Luas sebaran ini konsisten dengan dugaan bahwa pesawat tidak mengalami ledakan sebelum membentur air," kata Soerjanto dalam pernyataan tertulis yang diterima Republika.co.id, Selasa (12/1).

Baca Juga

KNKT juga telah mengumpulkan data radar (ADS-B) dari Airnav Indonesia. Ketua KNKT Soerjanto Tjahjono mengatakan, dari terekamnya data hingga pesawat berada di ketinggian 250 kaki mengindikasikan sistem pesawat masih berfungsi dan mampu mengirim data.

"Dari data ini, kami menduga bahwa mesin masih dalam kondisi hidup sebelum pesawat membentur air," tutur Soerjanto.

Dia merinci, dari data Airnav Indonesia, tercatat pesawat mengudara pada pukul 14.36 WIB. Selanjutnya, pesawat terbang menuju arah barat laut pada pukul 14.40 WIB hingga mencapai ketinggian 10.900 kaki.

"Tercatat, pesawat mulai turun dan data terakhir pesawat pada ketinggian 250 kaki," ujar Soerjanto.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA