Friday, 17 Safar 1443 / 24 September 2021

Friday, 17 Safar 1443 / 24 September 2021

Pakar: Pandemic Fatigue Disebabkan Banyak Faktor

Senin 11 Jan 2021 22:01 WIB

Red: Nora Azizah

'Pandemic Fatigue' atau kelelahan mental selama pandemi bisa dialami siapapun (Foto: ilustrasi)

'Pandemic Fatigue' atau kelelahan mental selama pandemi bisa dialami siapapun (Foto: ilustrasi)

Foto: Pixnio
'Pandemic Fatigue' atau kelelahan mental selama pandemi bisa dialami siapapun.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kepala Divisi Psikiatri Forensik dr Natalia Widiasih Raharjanti, mengatakan, keletihan secara mental, terutama di tengah pandemi COVID-19 bisa disebabkan banyak faktor. Kelelahan mental juga bisa dialami siapapun di masa pandemi.

"Ini bisa terjadi kepada siapapun. Apalagi, kalau kita tahu pandeminya sudah berlangsung 10 bulan lebih," kata Natalia dalam acara bincang-bincang bersama Satuan Tugas (Satgas) Penanganan COVID-19 di Graha BNPB di Jakarta, Senin (11/1).

Ia mengatakan, pandemic fatique atau keletihan secara mental akibat pandemi merupakan respons yang sangat normal dan bisa terjadi kepada siapa saja. Terlebih, karena pandemi yang telah menimbulkan banyak masalah dan membatasi banyak aktivitas masyarakat itu telah berlangsung selama lebih dari 10 bulan.

Secara umum, orang-orang memang mengalami keletihan secara mental akibat pandemi yang berkepanjangan. Tetapi, lebih rinci lagi keletihan itu sebenarnya dipengaruhi oleh banyak faktor, salah satunya adalah dari sudut pandang bagaimana seseorang itu memposisikan situasi bencana yang sedang ia hadapi.

"Jadi pandemic fatigue itu juga dipengaruhi bagaimana seseorang itu memosisikan situasi bencana yang sedang kita jalani. Apakah karena situasi yang berkepanjangan dan kita enggak tahu selesainya kapan. Selain itu, kok ternyata lingkungan kita, datanya makin lama makin cuek," katanya.

Pandangan seseorang terhadap situasi yang sedang ia hadapi dapat memengaruhi kondisi orang tersebut secara mental. Karena itu, bagaimana orang itu melihat situasi yang sedang terjadi dapat juga menyebabkan orang tersebut mengalami keletihan secara mental.

Selain karena pandangan tertentu yang menekan kesehatan mental. Banyaknya keterbatasan dan hilangnya pekerjaan atau kesempatan juga dapat memengaruhi kapasitas mental seseorang.

"Ini normal. Kalau kita kehilangan pekerjaan, kehilangan pendapatan, wajar kita menjadi stres, sehingga menyebabkan keletihan secara mental," katanya.

Namun demikian, meski berbagai keterbatasan dan kendala yang dihadapi masyarakat membuat mereka menjadi tertekan, bahkan menjadi letih secara mental, Natalia berharap agar masyarakat tetap bersabar menghadapi ujian pandemi dengan terus berdisiplin menerapkan protokol kesehatan. Selain dapat melindungi diri sendiri, mematuhi protokol kesehatan saat berinteraksi dengan orang lain juga dapat melindungi orang lain dari potensi penularan COVID-19.

"Untuk itu, kita semua harus saling menjaga, karena semua orang sebenarnya berperan. Bahkan, ketika bapak ibu walaupun di dalam rumah tetap pakai masker, menjaga jarak, maka 10 bulan yang kita lakukan itu sangat berperan melambatkan dan menurunkan jumlah angka kematian tanpa kita sadari," kata Natalia.

sumber : Antara
BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA