Selasa 12 Jan 2021 02:15 WIB

Produsen Herbal Raup Keuntungan di Tengah Pandemi

Empon-empon pada masa pandemi Covid-19 kini menjadi barang mahal dan banyak dicari

Petani menjemur kunyit (Curcuma longa) rajang, (ilustrasi). Empon-empon pada masa pandemi Covid-19 kini menjadi barang mahal dan banyak dicari masyarakat.
Foto: ANTARA/Aji Styawan
Petani menjemur kunyit (Curcuma longa) rajang, (ilustrasi). Empon-empon pada masa pandemi Covid-19 kini menjadi barang mahal dan banyak dicari masyarakat.

REPUBLIKA.CO.ID, KULON PROGO -- Empon-empon pada masa pandemi Covid-19 kini menjadi barang mahal dan banyak dicari masyarakat. Dulu komodtias ini hanya dipandang sebelah mata, namun sekarang menjadi incaran konsumen untuk diolah menjadi produk herbal atau biofarmaka.

Sebelum pandemi Covid-19, harga empon-empon di tingkat petani sangat rendah. Contohnya harga jahe Rp 10 ribu per kilogram, jahe merah Rp 18 ribu per kilogram, dan empon-empon lain berkisar Rp 8 ribu per kilogram.

Namun, saat ini harga empon-empon berkisar Rp 24 ribu sampai Rp 34 ribu per kilogram. Kenaikan harga empon-empon tidak lepas dari Kelompok Wanita Tani (KWT) Lestari di Kecamatan Pengasih, kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta, yang mengolah empon-empon menjadi produk herbal.

Empon-empon diolah menjadi produk herbal hingga jamu herbal yang banyak dicari pada masa pandemi Covid-19. Empon-empon hingga produk turunannya dipercayai masyarakat memiliki khasiat untuk memperlancar peredaran darah, menjaga daya tahan tubuh, dan menjaga stamina.

KWT Lestari yang diketuai Siti Rupingah ini memproduksi berbagai jenis jamu herbal. Bermodal resep tradisional keluarga, ia membuat inovasi agar jamu dapat lebih diterima semua khalayak umum. Pada 1998, dirinya bersama KWT Lestari mengolah jahe dan kunir menjadi minuman bubuk yang disukai masyarakat.

Saat ini, KWT Lestari mampu menghasilkan berbagai produk herbal mulai produk gula kristal jahe madu, gula krital jahe merah, kunir putih, temu lawak, beras kencur, bunga telon, wedang rempah, wedang uwuh sari jampi, dan simplesia kering, sedangkan minuman yang siap diminum berupa beras kencur, kenyit asam, dan wedang rempah. Pasar produk KWT Lestari dikirim ke Jakarta, Bal, Kalimantan, dan pasar lokal.

Di pasar lokal, produk KWT Lestari dipasarkan bekerja sama dengan kedai kopi, warung hingga Toko Milik Rakyat (TomiRa), bahkan dijual secara daring untuk pemasaran luar daerah. Permintaan produk jamu herbal dan minuman herbal ini sangat tinggi sehingga membuat kelompoknya kewalahan memenuhi permintaan.

Harga produk satu bungkus wedang uwuh sendiri dijual Rp 3.500, namun kalau dikirim ke luar daerah bisa mencapai Rp 6.000 hingga Rp 7.000 per bungkus karena ada biaya pengiriman dan biaya lain, sedangkan gula kristal Rp 17 ribu sampai Rp 21 ribu untuk isi 250 gram atau satu botol kecil, minuman cair kunyit asam dan beras kencur Rp 7.000 per botol isi 500 mililiter.

Usaha sari jampi yang dikerjakan KWT Lestari ini memberdayakan belasan kelompok wanita tani di Kabupaten Kulon Progo, yakni dengan memberdayakan ibu-ibu rumah tangg menyediakan bahan baku dan membantu memasarkan produk, kata Ketua KWT Lestari Siti Rupingah.

sumber : antara
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement