Senin 11 Jan 2021 11:12 WIB

Solusi Jokowi Agar tak Lagi Impor Kedelai

Pengelolaan komoditas pertanian harus dilakukan di lahan dengan skala yang luas.

Rep: Dessy Suciati Saputri/ Red: Friska Yolandha
Presiden Joko Widodo (Jokowi) menyoroti masalah komoditas pangan yang masih diimpor dari negara lain seperti kedelai, jagung, gula, bawang putih, dan juga beras. Menurut dia, masalah impor pangan ini harus segera diselesaikan untuk memenuhi kebutuhan seluruh masyarakat Indonesia.
Foto: ANTARA/ Akbar Tado
Presiden Joko Widodo (Jokowi) menyoroti masalah komoditas pangan yang masih diimpor dari negara lain seperti kedelai, jagung, gula, bawang putih, dan juga beras. Menurut dia, masalah impor pangan ini harus segera diselesaikan untuk memenuhi kebutuhan seluruh masyarakat Indonesia.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Presiden Joko Widodo (Jokowi) menyoroti masalah komoditas pangan yang masih diimpor dari negara lain seperti kedelai, jagung, gula, bawang putih, dan juga beras. Menurut dia, masalah impor pangan ini harus segera diselesaikan untuk memenuhi kebutuhan seluruh masyarakat Indonesia. 

Karena itu, ia meminta jajarannya serius membenahi pengelolaan komoditas pertanian dan pangan. Selain itu, pembangunan pertanian pun harus dilakukan secara rinci.

“Barang-barang ini harus diselesaikan. Urusan bawang putih, gula, jagung, kedelai, dan komoditas yang lain yang masih impor. Tolong ini menjadi catatan dan segera dicarikan design yang baik agar bisa kita selesaikan,” kata Jokowi saat membuka peresmian pembukaan rapat kerja nasional pembangunan pertanian tahun 2021 secara virtual di Istana Negara, Jakarta, Senin (11/1).

Jokowi pun menekankan pentingnya membangun sebuah kawasan dengan economic skill yakni lumbung pangan atau food estate dalam skala yang luas. Saat ini, pemerintah tengah fokus membangun dua lumbung pangan di Sumatera Utara dan Kalimantan Tengah.

Ia mengatakan, pengelolaan komoditas pertanian harus dilakukan di lahan dengan skala yang luas, bahkan hingga satu juta hektare. Sehingga dapat menghasilkan produksi yang cukup bagi seluruh masyarakat. Hal ini dinilainya dapat menyelesaikan masalah impor pangan selama ini.

“Tapi memang dalam sebuah skala yang luas, economic skill. Sehingga percuma kita bisa juga berproduksi tapi sedikit. Gak akan ngaruh apa-apa terhadap yang impor-impor tadi,” tambahnya.

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement