Wednesday, 14 Rabiul Awwal 1443 / 20 October 2021

Wednesday, 14 Rabiul Awwal 1443 / 20 October 2021

Cerita di Balik Berita

Jadi Tamu Agung di Lapas Cipinang, Bongkar Jual Beli Narkoba

Ahad 10 Jan 2021 06:20 WIB

Red: Erik Purnama Putra

Wartawan senior Republika, Selamat Ginting.

Wartawan senior Republika, Selamat Ginting.

Foto: dok. pribadi
Menteri Yusril Ihza Mahendra emosi, dan minta lapas dibersihkan dari narkoba.

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh Selamat Ginting/Wartawan Senior Republika

Salah satu yang menjadi tantangan saya ketika bergabung dengan Media Group adalah permintaan big boss Surya Paloh. "Saya butuh wartawan investigator, saya ingin Bung ada di sini. Tulisan-tulisanmu sudah saya baca. Baik saat menembus para preman di Medan dan pejabat-pejabat tinggi di Jakarta. Kamu bisa. Selamat bekerja."

Pertama kali saya ditempatkan di rubrik investigasi dengan nama Realitas. Dalam investigasi saya memang lebih leluasa sendirian. Namun ada kalanya butuh tim untuk pengelabuan sasaran.
Kali ini saya ingin cerita investigasi di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Cipinang, Jakarta Timur.  Kami berlima berbagi tugas di lapangan.

Saya yang memimpin operasi lapangan. Dengan empat anak buah yang punya tugas berbeda-beda. Empat tim saya adalah Ferry Putra Utama, Mansyur Razak, Desi Fitriani, dan Ninik Kusuma. Wartawan-wartawan hebat, saya tidak perlu lama memberikan pembekalan. Nyalinya tinggi, nalurinya sudah liar dan nakal untuk menggempur sasaran.

Saya mengawali dengan menemui Dirjen Pemasyarakatan Kementerian Hukum dan HAM (Kemenkumham) di kantornya, Jalan Veteran, Kecamatan Gambir, Jakarta Pusat. Satu hari sebelum hari H. Secara resmi saya mengungkapkan meminta izin untuk meliput di Lapas Cipinang. Panjang lebar pertanyaan.

Wawancara berlangsung sekitar dua jam. Saya lupa nama Dirjennya. Tapi bisa ditelusuri beritanya di Media Indonesia pada sekitar 2002. Sehari kemudian saya datang mengunjungi Lapas Cipinang. Dirjen sudah memerintahkan agar saya diberikan keleluasaan untuk bisa meliput seharian di lapas tersebut. Pagi hari saya sudah tiba di lokasi.

Disambut seperti tamu agung oleh Kepala Lapas Cipinang. Dijamu makan, minum lengkap dengan data yang saya inginkan. Semua perhatian petugas tertuju kepada saya. Di situ saya bisa melihat Beddu Amang (wafat pada 9 Januari 2020), mantan Kepala Badan Urusan Logistik (Bulog) yang dipenjara karena kasus korupsi dana Bulog sekitar Rp 95 miliar lebih.

Saya juga bertemu dengan Ricardo Gelael yang bersama Tommy Soeharto 'mengemplang' dana Bulog. Tommy Soeharto juga ada di lapas untuk kasus pembunuhan hakim agung Syafiuddin Kartasasmita. Syafiuddin adalah hakim agung yang memvonis Tommy dalam kasus tukar guling properti Bulog dengan Goro.

Namun, saya tidak bisa jumpa Tommy. Tetapi saya tahu di mana tempatnya Tommy. Orang-orang seperti Beddu Amang, Tommy Soeharto, Ricardo Gelael, dan lain-lain, merupakan tokoh-tokoh elite yang menggarong uang negara justru mendapatkan perlakuan istimewa. Mendapatkan kamar yang sangat layak.

Berbeda dengan narapidana kroco. Satu sel yang mestinya diisi empat orang, malah dipenuhi delapan orang. Sangat tidak manusiawi. Tidak ada keadilan di lapas. Narapidana papan atas tetap jadi bos.
Saya juga minta dipertemukan dengan jagoan-jagoan kriminal di lapas Termasuk meminta izin masuk ke lokasi paling ditakuti di lapas.

Kepada para narapidana, mental sok jagoan, sengaja saya tampilkan. "Mana orang yang paling jago berkelahi di sini? Mana? Mana? Keluar sini!" teriak saya dengan suara keras menggertak. Mental seperti ini saya pelajari dari karate, bushido. Pantang menyerah.

Tentu saja petugas-petugas yang mendampingi saya heran. Barangkali dalam hatinya, "Ini wartawan atau preman sih? Kok petantang-petenteng." Hahahaha, kata saya dalam hati.

Lalu saya tanya, ada kejadian apa di blok ini? Kok kelihatannya seram? Setengah berbisik, sang petugas memberitahu, sekitar sepekan lalu ada petugas yang dibacok."

"Mana orangnya yang bacok petugas? Biar saya gampar!"

"Wah jangan, Pak."

Gertakan ini membuat ciut petugas.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Disclaimer: Retizen bermakna Republika Netizen. Retizen adalah wadah bagi pembaca Republika.co.id untuk berkumpul dan berbagi informasi mengenai beragam hal. Republika melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda baik dalam dalam bentuk video, tulisan, maupun foto. Video, tulisan, dan foto yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim. Silakan kirimkan video, tulisan dan foto ke retizen@rol.republika.co.id.
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA