Monday, 28 Ramadhan 1442 / 10 May 2021

Monday, 28 Ramadhan 1442 / 10 May 2021

Ini Faktor Domestik Pendorong Perbaikan IHSG di 2021

Sabtu 09 Jan 2021 21:57 WIB

Rep: Retno Wulandhari/ Red: Fuji Pratiwi

Karyawan melintas di depan layar Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), di Bursa Efek Indonesia, Jakarta (ilustrasi). PT Bahana TCW Investment Management (Bahana TCW) memproyeksikan kondisi IHSG 2021 tak akan seburuk pada Maret-April 2020.

Karyawan melintas di depan layar Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), di Bursa Efek Indonesia, Jakarta (ilustrasi). PT Bahana TCW Investment Management (Bahana TCW) memproyeksikan kondisi IHSG 2021 tak akan seburuk pada Maret-April 2020.

Foto: Antara/Reno Esnir
Risiko kurs rupiah, harga komoditas, dan SWF bisa jadi sentimen positif.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- PT Bahana TCW Investment Management (Bahana TCW) memproyeksikan kondisi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada 2021 tak akan seburuk kondisi IHSG pada Maret-April 2020. Bahana TWC melihat beberapa faktor domestik yang mendukung optimisme tersebut.

Kepala Makroekonomi dan Direktur Strategi Investasi Bahana TCW, Budi Hikmat menjelaskan, indikator dari dalam negeri terlihat dari currency risk rupiah yang cenderung menurun malah dengan potensi menguat di bawah Rp 13.500 per dolar AS. Harga sejumlah komoditas ekspor seperti CPO, nikel, batu bara, dan karet juga meningkat. Sementara harga komoditas minyak masih negatif.  

"Dengan melihat berbagai indikator di atas, Bahana TCW melihat investor akan terlebih dahulu masuk ke pasar obligasi (SBN). Hal ini dilandasi yield obligasi Indonesia dengan tenor 10 tahun yang menarik di mata investor, yakni 5,89 persen," ungkap Budi melalui siaran pers, Sabtu (9/1).

Baca Juga

Sementara, obligasi AS tenor 10 tahun hanya memiliki yield 0,93 persen. Sepanjang 2020, indeks SBN Abtrindo mengukir total keuntungan 15,1 persen sementara IHSG minus 5,1 persen.

Budi menilai, kenaikan aset SBN ini menjadi prasyarat untuk keberlanjutan reli IHSG 2021, yang sudah ditopang oleh penguatan daya beli, terlihat dari indikator pertumbuhan uang beredar M1. 

Sementara, pertumbuhan M1 di AS 53,2 persen adalah angka tertinggi selama 60 tahun terakhir. Meski ada kecemasan peningkatan inflasi, risiko inflasi ini sementara ditahan oleh proses pengurangan utang (deleveraging) masyarakat di negara maju dan penguatan digitalisasi ekonomi. 

"Dengan sejumlah indikator tersebut, kami menyarankan agar investor bisa memanfaatkan proses reflasi aset finansial dengan mengurangi alokasi kas ke pasar obligasi maupun pasar saham," ungkap Budi.

Sementara sentimen positif yang dapat mendorong penguatan ekonomi dan pasar modal Indonesia adalah penerapan Sovereign Wealth Fund (SWF) untuk pembiayaan infrastruktur. Budi menilai, jika implementasi SWF ini dikelola secara berkualitas, kompeten, dan prudent, maka ekonomi dan IHSG akan kembali naik. 

Adapun pada 2021, Bahana TCW memproyeksikan IHSG akan berada pada level 6.800. 

 

 

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA