Sabtu 09 Jan 2021 13:47 WIB

Bagaimana Jika Pelaku Rusuh Capitol Muslim atau Kulit Hitam?

Tak terbayangkan jadinya jika pelaku rusuh Capitol Amerika Serikat Muslim

Rep: Zainur Mahsir Ramadhan / Red: Nashih Nashrullah
Tak terbayangkan jadinya jika pelaku rusuh Capitol Hill Washington DC Amerika Serikat Muslim
Foto: X90205
Tak terbayangkan jadinya jika pelaku rusuh Capitol Hill Washington DC Amerika Serikat Muslim

REPUBLIKA.CO.ID, WASHINGTON — Kolumnis Chicago Tribune, Heidi Stevens mempertanyakan bagaimana jika kerusuhan yang terjadi di Capitol AS dipenuhi Muslim atau warga kulit hitam. 

Menjawab pertanyaannya sendiri, ia terkenang pada tayangan CNN Rabu kemarin yang menyuarakan komentar dari Van Jones, di mana pendukung Trump menerobos secara bringas.

Baca Juga

Jones hari itu, kata Stevens, mengenang protes-protes kecil di Portland, Oregon dan lainnya yang kemudian dilawan pihak bertugas menggunakan gas air mata, pukulan hingga penculikan. “Apa pun yang Anda (polisi) lakukan terhadap pengunjuk rasa itu tidak apa-apa, karena kami memang harus memiliki hukum dan ketertiban,”kata Jones, dikutip dari twin cities, Sabtu (9/1).

Namun demikian, Jones merujuk kembali pada hukum dan ketertiban yang ada. Pengepungan Capitol dinilainya lebih ke arah pemberontakan. Bahkan, aksi tersebut adalah pengkhianatan dan pelanggaran hukum itu sendiri, sehingga tidak bisa diterima.

Jones dalam komentarnya Rabu lalu juga mengaku telah menghubungi beberapa rekan konservatif, termasuk dari pihak Republik seraya mempertanyakan bagaimana jika pelaku pengepungan adalah minoritas.

“Apa yang akan saya lakukan jika Black Lives Matter membawa 30 ribu massa dan mengepung serah terima kursi kekuasaan di tengah sesi Kongres? Atau bagaimana jika Muslim yang melakukannya? Apa yang akan kita katakan?’’ tanya Jones.

Dengan pertanyaan itu, Jones menegaskan, kalau memang semua orang bisa bersatu, bahkan menganggap satu sama lain sebagai satu bentuk negara, perlu ada kecaman secara hierarki. Khususnya, dari pihak atas hingga kebawah Partai Republik, menyoal apa yang terjadi beberapa waktu lalu. Meski diketahui kemudian Partai Republik, dalam jumlah yang signifikan juga mengutuk kekerasan dan kerusuhan tersebut. 

Yang patut disayangkan adalah unggahan Presiden Donald Trump. Khususnya, saat ia merilis video dan mendorong para pendukungnya untuk bubar. Namun dengan konotasi yang dirasa kurang pantas. Bahkan, unggahan itu juga kemudian diblokir media sosial. 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement