Rabu 06 Jan 2021 07:04 WIB

KBRI Kawal Proses Penahanan Dua WNI di Iran

KBRI Teheran telah melayangkan nota diplomatik kepada Kementerian Luar Negeri Iran

Rep: Lintar Satria/ Red: Christiyaningsih
Kapal tanker Korsel Hankuk Chemi dikawal kapal milik Garda Revolusi Iran, Senin (4/1).
Foto: EPA
Kapal tanker Korsel Hankuk Chemi dikawal kapal milik Garda Revolusi Iran, Senin (4/1).

REPUBLIKA.CO.ID, TEHERAN -- Kedutaan Besar Indonesia di Iran mengatakan akan terus berkoordinasi dengan berbagai pihak untuk mencari tahu keberadaan dan kondisi warga negara Indonesia yang ditahan di Bandar Abbas. Dua orang itu adalah awak kapal berbendera Korea Selatan (Korsel) yang ditahan oleh otoritas Iran Senin (4/1) lalu.

"KBRI Teheran telah melayangkan nota diplomatik kepada Kementerian Luar Negeri Iran mengenai permintaan klarifikasi terkait keberadaan kedua WNI ABK tersebut serta permintaan akses kekonsuleran dan komunikasi dengan keduanya," kata Kedutaan Indonesia di Teheran dalam siaran pers yang diterima Republika, Rabu (6/1).

Baca Juga

Kedutaan menambahkan Kementerian Luar Negeri Iran menyampaikan telah mengunjungi kapal tanker Korsel tersebut yakni Hankuk Chemi. Mereka menyatakan seluruh kru termasuk kedua WNI ABK saat ini  berada dalam kondisi baik dan sehat.

Sebelumnya Korsel dilaporkan mengirim pasukan militer untuk merespons penyitaan yang dilakukan Iran terhadap salah satu kapal tankernya. Seoul ingin bekerja sama dengan negara lain untuk beroperasi di kawasan.

Garda Revolusi Iran mengumumkan kapal mereka Zulfiqar menyita kapal tanker Korsel yang beroperasi di Distrik Pertama Maritim Iran di Teluk. "Sebab melanggar sejumlah hukum lingkungan maritim," kata Garda Revolusi Iran.

Kapal tanker Hankuk Chemi itu baru keluar dari pelabuhan di Jubail, Arab Saudi. Kapal yang membawa 7.200 ton minyak berbahan kimia itu membawa awak kapal dari Korsel, Indonesia, Vietnam dan Myanmar.

Garda Revolusi mengatakan kapal dan awaknya ditahan di pelabuhan Bandar Abbas di Iran. "Masalah ini akan ditangani pejabat peradilan," kata mereka.

Newsweek melaporkan untuk merespons hal tersebut Kementerian Pertahanan Korsel mengatakan mereka telah 'mengirim pasukan anti-pembajak di dekat Selat Hormuz'. Korsel juga meminta dukungan dari International Maritime Security Construct.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement