Sunday, 3 Zulqaidah 1442 / 13 June 2021

Sunday, 3 Zulqaidah 1442 / 13 June 2021

China Pulih, HBA Januari Naik ke 75,84 Dolar AS per Ton

Senin 04 Jan 2021 17:44 WIB

Rep: Intan Pratiwi/ Red: Friska Yolandha

Harga batu bara acuan.

Harga batu bara acuan.

Foto: Tim infografis Republika
China berperan penting dalam penentuan harga batu bara karena pasar utama bagi negara

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Harga Batubara Acuan (HBA) terus menujukkan tren positif pada awal tahun 2021. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arifin Tasrif menetapkan HBA selama perdagangan bulan Januari naik 16,19 dolar AS per ton atau 27,14 persen ke angka 75,84 dolar AS per ton dibandingkan bulan Desember tahun 2020, yaitu 59,65 dolar AS per ton.

Kepala Biro Komunikasi, Layanan Informasi Publik, dan Kerja Sama (KLIK) Kementerian ESDM Agung Pribadi mengonfirmasi terkait faktor kuat kenaikan komoditas batu bara tersebut. "Setelah hampir setahun adanya keterbatasan aktivitas ekonomi, pasar mulai bergerak pulih terutama di China," kata Agung di Jakarta, Senin (4/1).

Baca Juga

Agung melanjutkan, China punya peran penting dalam memengaruhi harga batu bara lantaran mereka merupakan pasar utama bagi Indonesia setelah India. "Apalagi saat ini terjadi ketegangan hubungan perdagangan antara China dengan Australia. Sentimen ini yang makin memperkuat," jelasnya.

Atas kenaikan ini, pergerakan HBA bergerak menuju level psikologis setelah sepanjang tahun 2020 akibat pandemi Covid-19 lebih banyak mengalami pelemahan ke level terendah. "Rata-rata HBA di tahun 2020 hanya sebesar 58,17 dolar AS per ton dan menjadi yang terendah sejak 2015," tandas Agung.

Secara spesifik, Agung merinci, harga batu bara dibuka pada angka 65,93 dolar AS per ton pada bulan Januari 2020. Sempat menguat sebesar 0,28 persen di angka 67,08 dolar AS per ton pada bulan Maret dibanding Februari yang sebesar 66,89 dolar AS per ton.

"Puncaknya ada di bulan September dimana harganya hanya 49,42 dolar AS per ton," ungkap Agung.

Harga Batubara kembali pulih (rebound) dalam tiga bulan terkahir, "Supply and demand tetap menjadi faktor perubahan (harga) utama di luar Covid-19 yang belum sepenuhnya terkendali," kata Agung.

Sebagai informasi, faktor turunan suplai dipengaruhi oleh season (cuaca), teknis tambang, kebijakan negara supplier, hingga teknis di supply chain seperti kereta, tongkang, maupun loading terminal.

Sementara untuk faktor turunan demand dipengaruhi oleh kebutuhan listrik yang turun berkorelasi dengan kondisi industri, kebijakan impor, dan kompetisi dengan komoditas energi lain, seperti LNG, nuklir, dan hidro.Nantinya, HBA bulan Januari ini akan dipergunakan pada penentuan harga batubara pada titik serah penjualan secara Free on Board di atas kapal pengangkut (FOB Vessel).

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA