Senin 04 Jan 2021 14:22 WIB

Hubungan AS-Iran akan Rumit dengan Transisi Pemerintahan

Peringatan terbunuhnya Qasem Soelimani bisa jadi jalan baru untuk hubungan Iran-AS

Rep: Dwina Agustin/ Red: Christiyaningsih
Pendukung Pasukan Mobilisasi Populer Syiah Irak menyalakan lilin di lokasi serangan pesawat tak berawak AS yang menewaskan jenderal Iran Qasem Soleimani dan Abu Mahdi al-Muhandis, wakil pemimpin milisi Pasukan Mobilisasi Populer di jalan utama Bandara internasional Baghdad di Baghdad, Irak, 02 Januari 2021. Ratusan Pendukung Pasukan Mobilisasi Populer Syiah Irak berkumpul di lokasi serangan pesawat tak berawak AS pada peringatan pertama pembunuhan komandan milisi Irak Abu Mahdi al-Muhandis dan Qasem Soleimani, ketua kelompok Islam Iran Pasukan Quds elit dari Korps Pengawal Revolusi, dan delapan lainnya di bandara internasional Baghdad pada 03 Januari 2020.
Foto: EPA-EFE/MURTAJA LATEEF
Pendukung Pasukan Mobilisasi Populer Syiah Irak menyalakan lilin di lokasi serangan pesawat tak berawak AS yang menewaskan jenderal Iran Qasem Soleimani dan Abu Mahdi al-Muhandis, wakil pemimpin milisi Pasukan Mobilisasi Populer di jalan utama Bandara internasional Baghdad di Baghdad, Irak, 02 Januari 2021. Ratusan Pendukung Pasukan Mobilisasi Populer Syiah Irak berkumpul di lokasi serangan pesawat tak berawak AS pada peringatan pertama pembunuhan komandan milisi Irak Abu Mahdi al-Muhandis dan Qasem Soleimani, ketua kelompok Islam Iran Pasukan Quds elit dari Korps Pengawal Revolusi, dan delapan lainnya di bandara internasional Baghdad pada 03 Januari 2020.

REPUBLIKA.CO.ID, TEHERAN -- Perhitungan strategis memperingati terbunuh pemimpin militer Iran, Jenderal Qassem Soleimani, telah diperumit oleh transisi politik di Washington. Peringatan peristiwa 3 Januari 2020 ini bisa menjadi jalan baru untuk hubungan Iran dan Amerika Serikat (AS) di bawah pemerintahan Presiden terpilih Joe Biden.

Situasi tersebut menghidupkan kembali ingatan akan peralihan kekuasaan dari Presiden Jimmy Carter ke Ronald Reagan empat dekade lalu. Sebanyak 52 sandera dari AS yang telah ditahan di Teheran selama lebih dari satu tahun akhirnya dibebaskan pada hari pelantikan presiden AS yang baru.

Baca Juga

Langkah itu oleh beberapa orang dianggap sebagai upaya untuk mempermalukan pendahulunya. Kondisi ini pun bisa terjadi mengingat hubungan yang sangat buruk antara Teheran dan Washington di bawah kepemimpinan Donald Trump.

Hubungan yang panas terjadi ketika pada 2018 Trump menarik AS keluar dari perjanjian kesepakatan nuklir 2015. Padahal ketika perjanjian itu dibuat, Iran telah menyetujui pengurangan besar dalam program nuklirnya dengan imbalan pencabutan sanksi.

Tindakan tersebut pun oleh Trump dibarengi dengan penerapan sanksi kembali kepada Iran. Meski begitu, banyak pihak termasuk Perserikatan Bangsa-Bangsa tidak sepakat atas tindakan AS. Teheran menanggapi langkah Trump dengan menangguhkan komitmen kesepakatan setahun kemudian dengan meningkatkan pengayaan bahan bakar nuklirnya.

Kondisi semakin tidak baik ketika AS membunuh pemimpin Pasukan Quds elite Garda Revolusi. Trump mengatakan serangan itu untuk menghentikan perang dan membantah bahwa AS menginginkan perubahan rezim di Teheran.

"Pemerintahan terornya telah berakhir," ujar Trump mengumumkan bahwa komandan Iran itu berencana untuk membunuh lebih banyak lagi warga AS.

Dikutip dari Euronews pada Senin (4/1), tanggapan pertama Teheran justru melahirkan bencana. Sebuah jet penumpang Ukraina secara keliru ditembak jatuh, menewaskan 176 orang di dalamnya. Butuh waktu tiga hari sebelum pihak berwenang mengakui kesalahan.

Iran juga membalas dengan meluncurkan Operasi Martir Soleimani dalam beberapa hari setelah pembunuhan itu. Sejumlah serangan rudal menargetkan pangkalan militer di Irak yang merupakan fasilitas AS. Tidak ada korban jiwa tetapi Pentagon mengakui puluhan pasukan AS mengalami luka traumatis.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement