Saturday, 26 Ramadhan 1442 / 08 May 2021

Saturday, 26 Ramadhan 1442 / 08 May 2021

Benarkah Pan Islamisme dan Khilafah Selalu Transnasional?

Senin 04 Jan 2021 04:57 WIB

Red: Muhammad Subarkah

Para orang kaya di zaman Ottoman (ilustrasi)

Para orang kaya di zaman Ottoman (ilustrasi)

Foto: google.com
Awal kajian soal ide Pan Islamisme dan khilafah.

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Muhammad Nicko Trisakti Pandawa, Alumni  UIN JAKARTA jurusan Sejarah Peradaban Islam.

Pada masa kini selalu timbul pertanyaan yang menggampangkan bahwa semangat Pan Islamisme dan khilafah adalah identik dengan ideologi transnasional atau lintas negara. Ide ini dianggap sama sekali tidak ada urusannya dengan perkembangan sosial internal sebuah negara.

Dalam kajian tulisan dalam skripsi penulis yang diberi judul “Pasang dan Surut Pengaruh Pan-Islamisme Khilāfah ‘Uṡmāniyyah Terhadap Rakyat Hindia-Belanda, 1882-1928” tersebut akan mengeksplorasi perkembangan Pan-Islamisme yang dilancarkan oleh Khilāfah ‘Uṡmāniyyah kepada rakyat Hindia-Belanda untuk dijadikan ‘pedang ideologi’ yang mereka gunakan untuk menebas legitimasi kekuasaan kolonial yang bercokol di negeri mereka pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20.

Selain bersifat langsung dari pihak ‘Uṡmāniyyah, dalam kajian pada skripsi juga berusaha mengkaji bagaimana cara pandang rakyat Hindia-Belanda itu sendiri terhadap kepemimpinan Khilāfah ‘Uṡmāniyyah yang saat itu dianggap sebagai kekuasaan tertinggi kaum Muslim sedunia serta usaha-usaha mereka untuk menjalin ikatan dengan Khalīfah yang bersinggasana di Istanbul.

Menurut Anthony Reid, sebuah gerakan dianggap Pan-Islamisme jika ia memberikan suatu basis ideologis untuk kerja sama di antara, atau di luar, satuan-satuan politik tersendiri; di dalam suatu perjuangan politik yang ada di bawah bendera Islam.

Ikatan ini, lanjut Reid, banyak memiliki daya tarik untuk menghubungkan kaum Muslim Asia Tenggara dengan Khalīfah itu sendiri; yang di kalangan masyarakat luas dianggap sebagai penguasa paling kuat di muka bumi, yang terikat untuk membantu sesama pengikutnya yang tertindas jika mereka dapat membuktikan kepatutannya.

Tetapi, ini bukan berarti bahwa setiap ledakan antusias Pan-Islamisme merupakan bagian dari gerakan internasional yang dikomando secara terpusat, atau bersifat top-down dari İstanbul ke Asia Tenggara.

Sering kali antusias Pan-Islamisme justru berasal dari inisiatif sendiri sebagian kaum Muslim yang ada di Hindia-Belanda. Dan ketika waktu terus berlalu, peralihan zaman dari abad ke-19 menuju abad ke-20 menyaksikan–sebagaimana yang ditandaskan Deliar Noer, betapa makin surutnya Pan-Islamisme sebagai suatu gagasan politik yang mulai terlihat semenjak dasawarsa ketiga abad ke-20. Ide ini kemudian digantikan oleh gagasan nasionalisme yang juga makin populer di tengah bangsa-bangsa terjajah untuk memerdekakan diri mereka.

Pembahasan dalam serial tulisan berikutnya adalah juga berfokus untuk mengkaji sejarah hubungan Khilāfah ‘Uṡmāniyyah dan Hindia-Belanda yang terbentang dari tahun 1882 sampai tahun 1924.

 

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA