Friday, 25 Ramadhan 1442 / 07 May 2021

Friday, 25 Ramadhan 1442 / 07 May 2021

Lonjakan Kasus Covid Usai Libur Nataru Diketahui 14 Hari

Sabtu 02 Jan 2021 19:24 WIB

Rep: Rr Laeny Sulistyawati/ Red: Andi Nur Aminah

Petugas kesehatan memeriksa hasil spesimen usai melakukan rapid antigen (ilustrasi)

Petugas kesehatan memeriksa hasil spesimen usai melakukan rapid antigen (ilustrasi)

Foto: Antara/Nova Wahyudi
Itupun asal kapasitas pemeriksaan spesimen ditingkatkan.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pemerintah telah menetapkan libur natal dan tahun baru (nataru) selama periode 24 Desember 2020 hingga 1 Januari 2021. Lonjakan kasus usai libur dan cuti nataru bisa diketahui hingga 14 hari mendatang, asalkan kapasitas pemeriksaan spesimen ditingkatkan.

"Kalau mengikuti karakter, masa inkubasi virusnya itu kita bisa tahu gejala muncul antara dua hingga 14 hari," kata Pakar epidemiologi dari Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Airlangga (Unair) Laura Navika Yamani saat dihubungi Republika.co.id, Sabtu (2/1).

Kendati demikian, ia mengakui banyak kasus tidak bergejala (OTG). Fenomena ini yang membuat tidak bisa melihat apakah orang-orang terpapar virus jika tidak dilakukan pengetesan atau pemeriksaan. Sehingga, dia melanjutkan, kalau testingnya tidak digencarkan atau masif maka kasus tidak bisa ditemukan. 

Baca Juga

Oleh karena itu, Laura meminta dalam periode dua hingga 14 hari diharapkan testing harus terus dilakukan dan diperluas contact tracingnya. Menurutnya jika pelacakan bisa menjangkau lebih luas, pemeriksaan yang tidak hanya dilakukan pada orang yang positif melainkan juga melacak hingga 30 hingga 50 orang-orang yang pernah kontak dengan per satu pasien positif Covid-19, maka positivity rate bisa ditekan. 

"Jangan sampai yang diberitakan dari pemerintah bahwa kasus Covod-19 tidak naik namun tidak ada tambahan pemeriksaan atau malah justru menurun. Jadi, testingnya memang harus ditingkatkan," katanya.

Jika kapasitas testing tidak ditambah, Laura khawatir orang-orang yang terinfeksi membawa virus tetapi tidak teridentifikasi karena tidak ada gejala namun tidak dilakukan testing membuat seolah-olah menjadi lolos. Kemudian, dia melanjutkan, orang yang membawa virus ini tidak merasa membawa virus kemudian beraktivitas seperti orang biasa dan berpotensi menyebarkan virus.

Padahal, Laura menegaskan pengendalian dari pandemi adalah 3T tes, telusur, dan tindak lanjut yang hanya bisa disiapkan pemerintah. Jadi tidak hanya meminta kontribusi masyarakat untuk melakukan protokol kesehatan memakai masker, menjaga jarak, dan mencuci tangan dengan sabun (3M) melainkan juga harus didukung dengan upaya 3T. 

"Selain masyarakat melakukan protokol kesehatan secara ketat, diharapkan sumber penularan semakin ditekan. Karena memutus mata rantai penularan virus ini bisa dicapai dengan 3T dan 3M," ujarnya.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA