Jumat 01 Jan 2021 23:18 WIB

Novel Tentang Rahmah El Yunusiah Cetak Ulang

Animo publik terhadap buku masih tinggi, meski ada buku versi digital.

Novel
Foto: Dok Republika Penerbit
Novel "Perempuan yang Mendahului Zaman" yang ditulis oleh Khairul Jasmi dan diterbitkan oleh Republika Penerbit.

REPUBLIKA.CO.ID, PADANG -- Insan dunia perbukuan tak perlu pesimistis  menghadapi zaman nirkertas (paperless). Animo publik terhadap buku masih tinggi, sungguhpun kedatangan teknologi membuat buku versi digital memang sempat mengkhawatirkan. 

"Ini kabar baik di awal tahun. Novel biografi Perempuan yang Mendahului Zaman dicetak ulang. Masih ada novel-novel akan dicetak ulang," ungkap sastrawan Khairul Jasmi dalam rilis yang diterima Republika.co.id,  Jumat (1/1). 

Novel Perempuan yang Mendahului Zaman (PyMZ) ditulis oleh Khairul Jasmi dan diterbitkan oleh Republika Penerbit, November 2020. Masih terbilang baru dan mendapat sambutan positif dari masyarakat pembaca sastra negeri ini. 

Menurut Khairul Jasmi, penetrasi pasar buku sastra memang agak sulit, namun kini dibantu oleh promosi dan penjualan online. Booming android sesungguhnya bukan ancaman jika ada kreativitas dalam promosi. Akses terhadap buku justru lebih terbuka dari sebelumnya. Walau memang para penerbit dan penulis kini harus berhadapan dengan buku bajakan. Pembajakan buku kini masih terus berlangsung. 

Sementara itu, kata dia,  dalam hal buku digital, kelemahan yang terasa bagi sebagian orang yang belum terbudaya dengan versi ini. Seni membaca buku versi cetak belum terkalahkan. Belum lagi soal tumpulkan file buku yang menyulitkan dan melupakan. Butuh trik pula dalam membaca pada versi digital. 

"Novel biografi memang berguna untuk membaca sejarah dalam bentuk lain. Ini juga pertimbangan dalam penulisan dan pertimbangan kebutuhan bacaan bagi publik," ujar Khairul Jasmi. 

Novel biografi PyMZ, kisah heroik Syekhah Hajjah Rangkayo Rahmah El Yunusiyah (1900-1969) dalam berjuang mendirikan pendidikan perempuan dan melawan kolonialisme, dicetak bulan ini. Sebelum novel ini, Khairul Jasmi menulis novel biografi Inyiak Sang Pejuang (ISP). Novel tentang Syeikh Sulaiman Arrasuly, pendiri Madrasyah Tarbiyah Islamiyah (MTI) Canduang dan pendiri Persatuan Tarbiyah Islamiyah (Perti) dicetak Februari. 

"Tentu saja ini membahagiakan. Yang jelas sebagai penulis, urusan kita ya menulis. Menulis itu kerja keabadian. Hidup seratus tahun lagi, kata Chairil Anwar. Kabar ini juga hendaknya jadi kabar bahagia penulis lain untuk terus bergiat tiada henti. Jangan surut karena keadaan yang sering kali sebenarnya tipuan-tipuan atas kebaruan yang terus datang dan pergi. Konsistensi, kira-kira begitu," papar putra Sungayang, Tanah Datar, Sumbar ini.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement