Kamis 31 Dec 2020 10:24 WIB

Bertahan di Tengah Badai Pandemi

Pandemi hanya bisa dilalui dengan strategi matang nan penuh perhitungan.

Handrian Setia Adi (35 tahun) melakukan shifting dari bisnis berjualan ayam bakar menjadi bisnis kopi dan tanaman bonsai di masa pandemi Covid-19.
Foto: dokpri
Handrian Setia Adi (35 tahun) melakukan shifting dari bisnis berjualan ayam bakar menjadi bisnis kopi dan tanaman bonsai di masa pandemi Covid-19.

REPUBLIKA.CO.ID, YOGYAKARTA -- Pandemi Covid-19 berdampak serius pada bisnis UMKM. Seperti yang dialami seorang pengusaha di Yogyakarta, Handrian Setia Adi (35 tahun). Pandemi memaksa ia menutup warung ayam bakar yang ia dirikan bersama seorang temannya tiga tahun lalu.

Hal itu disebabkan konsumen terbesar dari warung ayam bakar miliknya adalah para mahasiswa. Padahal, kebanyakan mahasiswa yang ada di Yogyakarta saat ini pulang kampung akibat kuliah dilakukan secara daring.  Akibatnya, dagangannya pun menjadi sepi pembeli.

"Karena pasar utama adalah mahasiswa, pasarnya menjadi tidak ada," kata Handrian saat berbincang dengan Republika, Rabu (30/12).

Awalnya, Handrian hanya berencana menutup warungnya selama tiga bulan saja. Ia berencana membuka kembali warungnya yang terletak di Pogung Baru Lor, Sleman, tersebut pada bulan Juni. Namun ternyata hal itu tidak memungkinkan.

"Terlalu riskan untuk buka lagi. Karena pasarnya belum pasti. Untuk mengangkat (bisnis ini) lagi beban biayanya terlalu besar," kata Handrian. Sebenarnya terdapat konsumen non-mahasiswa, yakni konsumen rumah tangga, namun persentasenya sangat kecil.

Ia pun kemudian beralih berjualan kopi. Untuk bisnis barunya tersebut, pasar utamanya adalah para penikmat kopi di rumah. "Apalagi saat ini semakin lumrah dijumpai orang yang memiliki home brewer di rumahnya," kata pria yang biasa dipanggil Aceh itu.

Bahkan, pada awal pandemi, tutur Handrian, penjualan kopi arabika dan robusta sangat bagus. "Karena banyak orang beralih ke online jadi pasarnya bagus," kata Handrian. 

Selain itu, bisnis barunya juga sangat efisien. Ia tidak memerlukan kafe untuk berjualan. Semua aktivitas seperti roasting biji, packaging, hingga pengiriman bisa dilakukan di rumah. "Bisnis ini sangat minim cost," kata Handrian.

Namun hal itu bukan berarti tak ada tantangan. Dalam tiga bulan terakhir, bisnis barunya tersebut mulai mendapatkan banyak kompetitor. Penjualannya pun sempat menurun hingga 50 persen. Ia kini pun mencoba bisnis lainnya yakni bisnis tanaman bonsai.

Hal yang sama juga menimpa Aditya Budi Kusuma (35 tahun). Akibat pandemi, ia terpaksa melepas bisnis pigura yang telah ia rintis selama 10 tahun. "Mau bagaimana lagi, pendapatan menurun sampai 80 persen," kata pria yang akrab dipanggil Budi itu.

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement