Tuesday, 18 Rajab 1442 / 02 March 2021

Tuesday, 18 Rajab 1442 / 02 March 2021

Penelitian: Hampir 500 Ribu Warga Wuhan Terinfeksi Covid-19

Kamis 31 Dec 2020 08:23 WIB

Rep: Lintar Satria/ Red: Indira Rezkisari

Beberapa ranjang yang digunakan untuk menangani pasien pada masa-masa awal COVID-19 mewabah di Wuhan menjadi salah satu koleksi di Museum Anti-COVID-19 di Wuhan, Provinsi Hubei, China, Sabtu (21/11/2020). Sejak dibuka pada 15 Oktober 2020, museum yang menggambarkan situasi Wuhan saat awal mula pandemi terjadi itu dikunjungi lebih dari 3.000 orang per hari.

Beberapa ranjang yang digunakan untuk menangani pasien pada masa-masa awal COVID-19 mewabah di Wuhan menjadi salah satu koleksi di Museum Anti-COVID-19 di Wuhan, Provinsi Hubei, China, Sabtu (21/11/2020). Sejak dibuka pada 15 Oktober 2020, museum yang menggambarkan situasi Wuhan saat awal mula pandemi terjadi itu dikunjungi lebih dari 3.000 orang per hari.

Foto: ANTARA/M. Irfan Ilmie
Pemerintah China hanya melaporkan secara resmi kasus Covid-19 sebanyak 50 ribu.

REPUBLIKA.CO.ID, WUHAN -- Penelitian Pusat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (CDC) China memperkirakan hampir 5 persen warga kota Wuhan terinfeksi virus corona. Wuhan berpopulasi 11 juta jiwa artinya hampir 500 ribu warga kota pernah memiliki Covid-19.

Bila hal itu memang terjadi maka jumlah kasus infeksi di Wuhan 10 kali lebih tinggi dibandingkan kasus resmi yang diumumkan pemerintah China yakni 50.354 kasus. China pasalnya tidak menghitung kasus tanpa gejala.

Kamis (31/12) BBC melaporkan CDC China mengatakan penelitian tersebut dilakukan pada awal tahun ini. Mereka mengambil sampel terhadap 34 ribu orang di Wuhan, daerah sekitar Provinsi Hubei, Beijing, Shanghai dan empat provinsi lainnya.

Peneliti menemukan prevalensi antibodi warga Wuhan rata-rata 4,43 persen. Prevalensi rata-rata daerah sekitar Provinsi Hubei 0,44 persen.

Penelitian muncul sebelum tim ilmuwan internasional mengunjungi Wuhan untuk menyelidiki asal virus corona. Mereka akan datang bulan depan setelah negosiasi dengan Beijing selama berbulan-bulan. Pemerintah China enggan menyepakati penyelidikan independen tersebut.

Pada awal tahun ini China dituduh tidak transparan mengenai angka virus sesungguhnya. Kritikus meragukan apakah angka resmi pemerintah China bisa dipercaya.

Dalam pernyataannya CDC China mengatakan hanya dua orang yang hasilnya tes antibodinya positif dari 12 ribu orang yang dites di luar Hubei. Penelitian yang digelar satu bulan usai China berhasil 'menahan gelombang pertama' pandemi.

Penelitian menyimpulkan jumlah orang yang terinfeksi di luar Wuhan cukup rendah. CDC China mengatakan hal ini menunjukkan langkah yang diambil di Wuhan mencegah virus menyebar ke skala yang lebih besar.

Pada awal tahun ini virus corona terlacak berasal dari pasar basah di Wuhan. Hal itu mengindikasi virus berpindah dari hewan ke manusia. Tapi kini para pakar tidak yakin penularan terjadi sesederhana itu.


BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA