Wednesday, 6 Zulqaidah 1442 / 16 June 2021

Wednesday, 6 Zulqaidah 1442 / 16 June 2021

Mitigasi Bencana Ala KBA Sunter Jaya

Rabu 30 Dec 2020 15:03 WIB

Red: A.Syalaby Ichsan

Pembina Proklim Kampung Berseri Astra Sunter Jaya, Sutarno sedang memeriksa tong berisi pupuk organik, belum lama ini.

Pembina Proklim Kampung Berseri Astra Sunter Jaya, Sutarno sedang memeriksa tong berisi pupuk organik, belum lama ini.

Foto: Republika/Achmad Syalabi Ichsan
Mitigasi bencana ala Proklim KBA Sunter Jaya amat bermanfaat saat pandemi ini.

Achmad Syalaby Ichsan (Wartawan Republika)

REPUBLIKA.CO.ID, Tidak selamanya kampung padat penduduk identik dengan kumuh. Proklim Kampung Berseri Astra (KBA) Sunter Jaya salah satunya. Pemukiman yang terletak di RW 01, Kelurahan Sunter Jaya, Kecamatan Tanjung Priok, Jakarta Utara, itu menata kampungnya lebih asri.  Mereka membuat kampung berpopulasi 13.267 jiwa itu lebih ceria dengan jalan yang dicat berwarna-warni. Beberapa jalan bahkan dicat dengan pola  permainan tradisional macam ular tangga dan pabrek. 

Warga pun bisa menikmati udara segar dari rimbunnya pepohonan di kampung ini. Pantauan Republika, setiap gang di RW 01 pastilah bernuansa hijau. Pohon palem, belimbing, jeruk, hingga mangga bisa ditemui berjejer di gang-gang itu. Belum lagi dengan belasan pot yang digantung. Untaian tanaman hias merambati para-para yang ada di langit-langitnya. Ada juga gentong-gentong plastik berwarna warni dengan fungsi berbeda. Beberapa menjadi penyimpanan sampah organik. Gentong lainnya dijadikan kolam ikan lele.

Kondisi kampung yang asri saat ini jauh berbeda bila dibandingkan penampakan kampung sepuluh tahun lalu. Hampir tidak ada pepohonan di kampung itu. Ribuan rumah yang berdempetan di daerah tersebut pun tak memiliki tempat pembuangan sampah sendiri. Ketua RW 01 Kartono mengungkapkan, sempitnya lahan membuat warga kesulitan membuang sampah. Mereka pun mengonggok barang-barang bekas di pojok-pojok gang begitu saja. Untuk memusnahkan sampah itu, beberapa warga membakarnya. “Mereka ingin supaya rumahnya bersih tapi bikin lingkungan kotor,” kata Kartono kepada Republika beberapa waktu lalu. 

Kumuhnya kampung itu diperparah dengan banjir tahunan yang kerap menyapa. Limpasan Danau Sunter sampai ke rumah-rumah warga. Buruknya sistem drainase di pemukiman itu ikut membuat musim hujan kerap menjadi bencana. Banjir tahunan kerap melanda kampung itu. Tingginya bisa berkisar satu meter. Genangan air pun baru surut dalam tujuh hari. “Kalau dulu hujan pasti banjir,” kata Kartono.

RB Sutarno, pembina KBA Sunter Jaya prihatin akan kondisi kampungnya. Sejak 2009, mantan guru sekolah swasta itu pun mencoba untuk menyadarkan warga untuk lebih peduli dengan lingkungan. Bermitra dengan salah satu komunitas dari Sunter Indah, dia mencoba untuk melatih warga mengelola sampah rumah tangga dari sumbernya. Sampah organik harus dipisahkan untuk dijadikan kompos. Sementara sampah anorganik didaur ulang dan masuk ke bank sampah. Untuk menyemangati warga, Sutarno menghijaukan lusinan gang di kampung itu dengan pot. Untuk gang yang jalannya amat sempit, pot akan digantung.

photo
Suasana bank sampah di RW 01, Sunter Jaya, Tanjung Priok, Jakarta Utara, beberapa waktu lalu. - (Republika/Achmad Syalabi Ichsan)
 

“Pada 2010 itu ada gerakan kampung hijau dari pemerintah. Kita mulai per RT melakukan penghijauan,” jelas dia. Sutarno pun menggandeng pengurus RT dan RW. Setiap RT membentuk tim hijau yang dikordinasikan oleh pengurus RW 01. Masuknya bantuan dari CSR Astra Honda Motor —yang sudah terlebih dahulu membantu bank sampah— membuat gerakan kampung hijau semakin massif. Perlahan, RW 01 pun berubah wajah.

Sutarno kemudian bersinergi dengan warga lain dalam pengelolaan sampah. Jika dia memproduksi sampah organik, maka sampah anorganik diserahkan kepada ibu PKK. Pengelolaan sampah plastik dikomandoi oleh Sri Rahayu dengan bank sampahnya. Bank Sampah dengan nasabah berjumlah lebih dari seratus orang itu bisa mengumpulkan  tiga ton sampah plastik per tiga bulan. Warga pun bisa menabung di bank sampah tersebut. Tabungan dari setoran sampah yang dihargai Rp 3000 per kilogram akan diambil saat Idul Fitri. “Buat beli daging waktu lebaran,”ujar Sri Rahayu. 

Untuk menambah serapan, warga membuat 250 lubang biopori yang tampak di sepanjang jalan. Kampung ini juga menyiapkan pompa pengendali banjir plus sistem peringatan dini jika ada bencana. Meski sejak 2015, banjir sudah tidak lagi hinggap ke area RW 01. 

Sebagai tempat pembibitan, Sutarno  membuat taman mini di lantai dua rumahnya. Taman seluas 150 meter itu sepenuhnya berwadahkan pot. Pohon pisang, kelor, palem, cabai, pegagan hingga lidah buaya menjadi penghuninya. Hidup di pot tak membuat pepohonan itu mandul. Mereka bisa tetap berbuah. “Coba lihat ini pisang. Sebentar lagi bisa dipetik,” kata Sutarno.

Taman itu dilengkapi dengan dua kolam ikan lele. Kolam ikan dibangun dengan susunan behel tak bersemen. Lembaran terpal melapisi kolam itu. Air kolam itu pun diambil dari limbah air penyejuk udara (Air Conditioner).  Taman di rumah Sutarno pun yang mengambil konsep kebun gizi dan kolam gizi. Dia bisa mengambil sayuran dan ikan untuk minimal dikonsumsi sendiri. “Ini konsep mini proklim sebenarnya,”jelas dia. 

Kini, rumah Sutarno menjadi tempat pembelajaran pengelolaan sampah baik organik maupun anorganik. Astra membantu merenovasi rumah pribadi Sutarno hingga layak untuk dijadikan rumah belajar. Astra juga melengkapi alat-alat produksi kompos di rumah Sutarno. Meski terletak di gang sempit, rumah itu bisa menampung belasan orang yang hendak belajar cara pengelolaan sampah. “Ruang ini kami dibantu Astra menjadi rumah belajar. Alat-alat ini dibantu oleh Astra,”tambah dia.

Untuk sampah organik, dia membuat alat-alat komposter untuk memproduksi pupuk kompos baik cair maupun padat. Sutarno juga membuat tong khusus untuk menampung sampah organik yang akan dipanen setiap pekan. Sampah itu lantas diurai menjadi pupuk cair siap jual. “Ini harganya Rp 20 ribu per botol,” kata dia.

photo
Spanduk kawasan tanpa rokok terpampang di gang menuju RT 13 RW 01 Kelurahan Sunter Jaya, Tanjung Priok, Jakarta Utara, Jumat (15/2). - (Republika/Mimi Kartika)
 

Untuk sampah anorganik, selain disetor ke bank sampah, Sutarno sudah berkolaborasi dengan para ibu PKK untuk membuat kerajinan daur ulang. Produk sampah itu akan dijadikan suvenir bagi para pengunjung Bank Sampah.Sutarno berharap, adanya proklim bisa membantu masyarakat untuk melakukan mitigasi dan adaptasi bencana terhadap perubahan iklim. Ketika terjadi kelangkaan pangan akibat bencana misalnya. Warga bisa mengambil makanan dari kebun gizi dan kolam gizi di sekitarnya.

Mitigasi bencana ala Proklim KBA Sunter Jaya amat bermanfaat saat pandemi ini. Banyak warga yang tidak bisa bepergian selama pandemi. Tidak sedikit diantara mereka yang pendapatannya berkurang karena kesulitan ekonomi. Dampaknya berpengaruh terhadap ketahanan pangan warga. Untuk tetap memenuhi standar gizi yang baik, warga semakin giat merawat tanaman yang bisa dikonsumsi. Mereka bisa mendapat asupan tambahan dari sayuran, buah dan ikan yang mereka tanam. Warga juga menanam apotek hidup seperti jahe, temulawak, kunyit, dan sebagainya untuk memperkuat daya tahan tubuh.  “Sejak pandemi ini, warga jadi semakin giat,”ujar dia. 

Tekanan psikologis karena sepanjang hari harus berada di rumah  membuat warga RW 01 mencari kegiatan. Menurut Sutarno, aktivitas berkebun di lahan sempit yang sudah dicontohkan dari kampung proklim mereka terapkan. “Mereka jadi enggak stres,”jelas dia. 

Diganjar prestasi

Hasil program ini bisa dinikmati sekarang. Selain dapat menanggulangi banjir, RW 01 juga mendapat trofi Kampung Proklim dari Kementerian Kehutanan dan Lingkungan Hidup pada 2016. Padahal, Sutarno menjelaskan, wilayah perkotaan yang mendapatkan trofi tersebut amat sedikit. “Sehingga saat ini Wilayah RW 01 Sunter Jaya menjadi wilayah percontohan oleh KLHK untuk Kampung Proklim untuk tipe perkotaan,” jelas dia. Sutarno pun mendapat prestasi Kalpataru Tingkat Nasional. Trofi ini diberikan di Jakarta, Senin (21/12). Sutarno meraih kalpataru untuk kategori pembina atas prestasinya membangun Proklim KBA Sunter Jaya. 

Sebelum pandemi, reputasi  RW 01 sebagai kampung proklim mengundang tamu dari seantero daerah di Tanah Air untuk berkunjung. “Dari Aceh hingga Papua sudah kesini,” kata Kartono. Sutarno menimpali, tamu-tamu luar negeri juga melakukan studi banding ke RW 01. Mereka ingin belajar pengelolaan sampah dan cara membuat pemukiman padat penduduk menjadi hijau.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA