Sunday, 15 Zulhijjah 1442 / 25 July 2021

Sunday, 15 Zulhijjah 1442 / 25 July 2021

Jenis Baru Virus Corona, Temuan Ilmuwan Ini Bikin Lega

Kamis 31 Dec 2020 13:11 WIB

Red:

Virus corona dalam tampilan mikroskopik. (ilustrasi)

Virus corona dalam tampilan mikroskopik. (ilustrasi)

Foto: EPA/CDC
Jenis COVID-19 dari Inggris tampaknya tidak menimbulkan sakit yang parah

Jenis COVID-19 dari Inggris tampaknya tidak menimbulkan sakit yang parah melebihi jenis lain, menurut sebuah penelitian.

Ilmuwan mengatakan jenis baru virus corona ini namun dapat menyebar dengan lebih cepat.

Virus tersebut ditemukan di Inggris pada pertengahan Desember lalu, sehingga membuat negara-negara lain melarang perjalanan ke Inggris.

Beberapa negara lainnya juga telah melaporkan kasus dengan jenis virus baru ini di tempat mereka, termasuk Australia.

Dalam penelitian tersebut, ilmuwan membandingkan 1.769 orang yang terinfeksi virus dengan jenis baru dengan 1.769 lainnya yang mereka beri nama virus "jenis ganas".

Kedua kelompok ini lalu dibandingkan sama persis berdasarkan umur, jenis kelamin, daerah tempat tinggal, dan waktu tes.

Dari 42 orang yang dilarikan ke rumah sakit, 16 di antaranya terinfeksi jenis baru virus corona, sementara 26 lainnya tertular virus "jenis ganas", menurut penelitian ini.

Jumlah kematian akibat jenis baru virus corona adalah sebanyak 12, sementara kematian dari virus "jenis ganas" sebanyak 10 kasus.

"Hasil pendahuluan dari studi kohort menemukan: tidak adanya perbedaan signifikan dalam hal statistik soal jumlah orang yang masuk rumah sakit dan kematian setelah 28 hari dari kasus dengan jenis baru dengan kasus jenis ganas," bunyi pernyataan penelitian tersebut.

Tidak ada perbedaan signifikan pada kemungkinan tertular kembali, sebagaimana dibandingkan dengan jenis lain, tambah pernyataan.

 

Namun penelitian ini menambahkan "tingkat serangan sekunder", atau proporsi kontak kasus terkonfirmasi yang membentuk penyakit sendiri, lebih tinggi dalam kelompok orang yang terinfeksi virus jenis baru.

Selasa kemarin, seorang epidemiolog penasihat Pemerintah Inggris, Andrew Hayward, memperingatkan jika Inggris akan menghadapi "bencana" sampai minggu-minggu ke depan jika tidak mengambil aksi lebih tegas dalam menghadapi virus jenis baru.

Inggris melaporkan 53.135 kasus baru COVID-19 hari Selasa, jumlah terbanyak sejak tes massal dimulai pertengahan 2020 lalu.

Perdana Menteri Inggris, Boris Johnson, telah setuju untuk memberlakukan aturan yang lebih ketat bagi beberapa daerah di negara tersebut, yang disebut 'Tier 4', menurut laporan sejumlah media di Inggris.

Diproduksi oleh Natasya Salim.

Ikuti berita seputar pandemi Australia dan lainnya di ABC Indonesia.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Disclaimer: Berita ini merupakan kerja sama Republika.co.id dengan ABC News (Australian Broadcasting Corporation). Hal yang terkait dengan tulisan, foto, grafis, video, dan keseluruhan isi berita menjadi tanggung jawab ABC News (Australian Broadcasting Corporation).
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA