Sunday, 15 Zulhijjah 1442 / 25 July 2021

Sunday, 15 Zulhijjah 1442 / 25 July 2021

Anak Masih Mengompol, Bagaimana Mengatasinya?

Selasa 29 Dec 2020 20:47 WIB

Rep: Desy Susilawati/ Red: Reiny Dwinanda

Anak yang mengompol dan diberi hukuman justru bisa membuat kebiasaannya bertahan lama dari seharusnya.

Anak yang mengompol dan diberi hukuman justru bisa membuat kebiasaannya bertahan lama dari seharusnya.

Foto: ist
Jangan marahi anak yang mengompol.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Ada beberapa faktor yang membuat anak mengompol, mulai dari faktor genetik, kelainan fisiologis, hingga keterlambatan perkembangan. Untuk mengatasinya, sesuaikan dengan penyebabnya.

Hal utama penanganan mengompol (enuresis nocturnal) adalah memastikan tidak adanya kelainan fisiologis pada anak. Mengompol umum terjadi pada anak di bawah lima tahun. Saat membimbing untuk mengatur berkemih, orang tua harus bisa menghilangkan rasa bersalah pada anak.

"Jangan dimarahi," kata dokter spesialis anak Dr dr Bobby S Dharmawan, SpA.

Lakukan edukasi berkemih teratur. Selanjutnya, ajak anak tidak minum terlalu banyak menjelang tidur.

Baca Juga

Bobby juga menyarankan untuk membuat catatan harian waktu anak mengompol. Catat jamnya.

Jangan lupa berikan pujian dan hadiah bila anak sudah berhasil tidak mengompol. Selain itu, usahakan lokasi toilet mudah dicapai dari tempat tidur.

"Jangan terlalu jauh, jangan turun tangga," ujar Bobby.

Di samping itu, Bobby juga merekomendasikan ayah dan ibu memasang matras supaya kasur tidak basah. Salah satu contoh mengatasi anak mengompol pada malam hari adalah dengan terapi alarm.

Intinya adalah membangunkan anak sebelum anak berkemih. Dengan catatan harian tersebut, misalnya anak mengompol jam satu atau jam dua, satu jam sebelumnya dibangunkan pakai alarm. Setelah alarm berbunyi, maka dia akan bangun, segerakan anak untuk pipis dan tidur kembali.

“Ini sangat perlu peran aktif dari kedua orang tua, sangat penting sekali dukungan orang tua. Kalau orang tuanya bangun, sama-sama tidur lagi atau sama–sama bangun mematikan alarm, percuma, jadi harus kerja sama,” tutur Bobby

Alarm enuresis bisa dipasang di kasur atau celana. Bila terjadi urine keluar atau basah, alarm akan menyala atau bunyi, maka bayi atau anak akan terbangun, meneruskan buang air kecil di toilet.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA