Friday, 15 Zulqaidah 1442 / 25 June 2021

Friday, 15 Zulqaidah 1442 / 25 June 2021

Wapres Soroti Penurunan Tajam Kredit KPR dan KPA

Senin 28 Dec 2020 14:41 WIB

Rep: Fauziah Mursid/ Red: Fuji Pratiwi

Wakil Presiden KH Ma'ruf Amin. Wapres menyoroti turunnya pertumbuhan KPR dan KPA.

Wakil Presiden KH Ma'ruf Amin. Wapres menyoroti turunnya pertumbuhan KPR dan KPA.

Foto: dok. KIP/Setwapres
Perumahan merupakan sektor strategis yang diharapkan membantu pemulihan ekonomi.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Wakil Presiden KH Ma'ruf Amin menyoroti penurunan tajam pertumbuhan Kredit Kepemilikan Rumah dan Apartemen (KPR dan KPA) yang pada kuartal III tahun 2020 hanya sebesar 2,05 persen. Padahal pada periode yang sama pada 2019, pertumbuhan KPR mencapai 7,99 persen.

Kiai Ma'ruf mengatakan, hal ini lantaran pandemi Covid-19 telah berdampak pada pertumbuhan sektor real estate.

Baca Juga

"Akibat pandemi ini pula, pertumbuhan sektor real estate pada kuartal III tahun 2020 juga jauh di bawah angka pertumbuhan pada tahun 2019 yang mencapai 5,49 persen," ujar Kiai Ma'ruf saat menghadiri virtual Focus Group Discussion DPD bertajuk Mendorong Pemulihan Ekonomi Nasional melalui Sektor Perumahan, Senin (28/12).

Karena itu, pemerintah berharap pada 2021 ekonomi Indonesia bisa tumbuh 5 persen agar sektor perumahan juga kembali tumbuh. Sebab, sektor perumahan sebagai satu sektor strategis yang diharapkan mampu mendukung pemulihan ekonomi nasional.

Ia menjelaskan, sektor perumahan merupakan salah satu sektor yang penting dan berkontribusi terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia, yang menyumbang sekitar 2,7 persen PDB nasional.

Selain itu, sektor ini memiliki efek berantai dan penyerapan tenaga kerja yang signifikan,. Sektor ini memacu kurang lebih 175 industri lainnya dan bisa menyerap tenaga kerja di sektor perumahan sekiar 4,23 juta orang.

Tak hanya itu, pengeluaran rumah tangga dari sektor ini juga dapat menambahkan peningkatan PDB sebesar 0,6-1,4 persen. Artinya, kata Kiai Ma'ruf, setiap pembiayaan yang dilakukan pada sektor perumahan memiliki dampak yang sangat besar bagi perekonomian.

Ia mengatakan, meski menurun tajam, sektor perumahan termasuk salah satu sektor yang mampu tumbuh positif di tengah tekanan pandemi yang menyebabkan perekonomian domestik di kuartal ketiga 2020 mengalami kontraksi 3,49 persen. 

Berdasarkan data yang diumumkan BPS pada November 2020, terdapat tujuh sektor yang masih tumbuh positif secara tahunan (year on year) meski melambat dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Ketujuh sektor tersebut yakni informasi dan komunikasi, pertanian, administrasi pemerintahan, jasa pendidikan, real estate, jasa kesehatan, serta sektor pengadaan air. 

"Untuk sektor real estate berada di urutan ke tujuh, sebesar 1,98 persen. Tentunya hal ini menjadi berita yang cukup menggembirakan bagi sektor perumahan," ungkapnya.

Karena itu, pemerintah menilai masih banyak hal yang perlu dibenahi di sektor perumahan dalam menghadapi tekanan ekonomi karena pandemi, salah satunya kolaborasi semua pihak. Sebab, sebesar apapun subsidi dan insentif pemerintah untuk sektor perumahan, tidak akan berjalan dengan baik jika masing-masing pemangku kepentingan berjalan sendiri.

Ia melihat, pembangunan di bidang perumahan tidak akan optimal jika hanya ditangani oleh pemerintah. "Kata kuncinya adalah kolaborasi. Kolaborasi itu artinya kerjasama untuk mencapai cita-cita, yaitu menyediakan rumah yang nyaman dan aman untuk masyarakat," kata Wapres.

 

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA