Friday, 17 Safar 1443 / 24 September 2021

Friday, 17 Safar 1443 / 24 September 2021

Hipmi Ajak Perguruan Tinggi Gali Potensi Ekonomi Pesantren

Senin 28 Dec 2020 04:26 WIB

Red: Gita Amanda

Santri bersiap mengikuti proses belajar mengajar  di Pondok Pesantren Mambaul Ulum, Bata-Bata,  Pamekasan, Jawa Timur, (ilustrasi).

Santri bersiap mengikuti proses belajar mengajar di Pondok Pesantren Mambaul Ulum, Bata-Bata, Pamekasan, Jawa Timur, (ilustrasi).

Foto: Antara/Saiful Bahri
Pondok pesantren merupakan lembaga pendidikan yang memiliki potensi bisnis luar biasa

REPUBLIKA.CO.ID, PAMEKASAN -- Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi) Pamekasan, Jawa Timur, menggandeng perguruan tinggi untuk menggali potensi ekonomi di pondok pesantren. Ini sebagai upaya menghidupkan kembali perekonomian masyarakat di wilayah itu yang terdampak pandemi Covid-19.

"Kami memiliki keyakinan, kerja sama segi tiga antara Hipmi dengan perguruan tinggi dan pondok pesantren yang ada di Pamekasan akan berdampak luar biasa terhadap pengembangan ekonomi di Pamekasan ini," Ketua Badan Pengurus Cabang (BPC) Hipmi Pamekasan Qoyyim Asy'ari di Pamekasan, Ahad (27/12).

Pondok pesantren merupakan lembaga pendidikan yang memiliki massa yang tidak sedikit, sehingga secara ekonomi, lembaga tersebut juga memiliki potensi bisnis yang luar biasa. Hanya saja, kelemahan di pesantren pada pola pengelolaan administrasi, keterampilan dan sumber daya manusia (SDM).

Jika perguruan tinggi bersedia menjadi pendamping seperti memberikan arahan pola manajemen usaja, sistem pemasaran dan pengemasan barang, maka akan saling melengkapi dalam membantu kekurangan yang ada di kalangan pesantren.

"Untuk itu, Hipmi hadir sebagai mediator, guna menjembatani dua potensi baik di dua komunitas berbeda ini, yakni komunitas pesantren dan perguruan tinggi, sehingga akan lebih terarah, bernilai guna dan tepat guna," katanya.

Qoyyim yang juga dosen ilmu ekonomi Institut Agama Islam (IAI) Al-Khairat Pamekasanini lebih lanjut menjelaskan, modal kuat yang dimiliki kalangan pesantren adalah kejujuran dalam berusaha, serta ulet dalam berusaha.

"Dalam teori bisnis, kejujuran adalah modal dasar, sehingga jika modal kuat ini didukung dengan manajemen dan SDM yang memadai, maka Insya Allah hasilnya juga akan jadi lebih baik," kata.

Sejauh ini, sambung mantan aktivis Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Bangkalan tersebut, belum banyak para pegiat ekonomi yang memperhatikan potensi baik ekonomi di kalangan pesantren. Kalaupun ada, jumlahnya masih sangat terbatas, sehingga belum bisa dimanfaatkan secara masif.

"HIPMI Pamekasan merasa terpanggil untuk mendorong kemajuan ekonomi di kalangan pesantren ini, sehingga akan tercipta kerja sama timbal balik yang saling menguntungkan, dan pada akhirnya terwujud kesejahteraan masyarakat di bidang ekonomi," katanya.

Sebelumnya dalam acara Focus Group Discussion (FGD) pada acara pelantikan Pengurus BPCHipmi Pamekasan Periode 2020-2023 bertajuk "Membangun Interpreneur Muda Berbasis Relegiusitas Menuju Pamekasan Rajjha, Bajjha tor Parjhugha untuk Indonesia Sejahtera Berkemajuan" terungkap bahwa pendidikan dan bimbingan dari pihak akademik, menjadi faktor pendukung dalam kiat usaha sukses.

Kebijakan program pemerintah yang berpihak pada kemajuan ekonomi, juga termasuk salah satu faktor penting, disamping komitmen yang kuat dan kejujuran atau keterbukaan dari pelaku usaha.

Narasumber FGD itu dari Pondok Pesantren Darul Ulum Banyuangar, Pamekasan Mukhlisin mengakui, faktor SDM yang lemah, memang menjadi kendala dalam mengembangkan bisnis di lembaga pondok pesantren. Oleh karenanya, dibutuhkan pendampingan dan bimbingan teknis, agar kalangan pesantren bisa bergerak lebih maju dalam berusaha.

"Banyuanyar bisa bergerak lebih maju dalam hal pengelolaan lembaga keuangan, yakni koperasi, setelah banyak mendapatkan bimbingan dan arahan dari kalangan profesional, akademisi dan pelaku usaha," kata Mukhlisin yang juga Direktur Koperasi Syariah Nuri di Pondok Pesantren Darul Ulum, Pamekasan tersebut.

Oleh karenanya, sambung dia, jika HipmiPamekasan bersedia menjadi mediator dalam membantu kemajuan ekonomi masyarakat pesantren dan lembaga pendidikan pondok pesantren di Pamekasan, maka hasilnya akan lebih baik.

Apalagi, Pemkab Pamekasan memang memang memprioritas pada kemajuan ekonomi melalui program sepuluh ribu pengusaha baru (Sapu Tangan Biru) yang kini sedang dicanangkan.

"Jika Hipmi memang fokus sebagai mediator dengan pola kerja sama segitiga antara pesantren, dan perguruan tinggi, maka, saya yakin hasilnya akan luar biasa," katanya, menjelaskan.

Selain dari perwakilan koperasi pondok pesantren, narasumber lain yang juga diundang dalam acara FGD di pelantikan Pengurus HipmiPamekasan periode 2020-2023 itu pengusaha dari kalangan pemuda yakni Subaidi dan Betty Wirandiri.

sumber : antara
BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA