Monday, 4 Zulqaidah 1442 / 14 June 2021

Monday, 4 Zulqaidah 1442 / 14 June 2021

Sudah 13 Negara Catat Infeksi Varian Baru dari Virus Corona

Ahad 27 Dec 2020 18:22 WIB

Rep: Fergi Nadira/ Red: Gita Amanda

Seorang wanita yang mengenakan pelindung wajah dan masker untuk menahan penyebaran virus corona berjalan melewati department store Debenhams, yang sedang dalam proses ditutup, di Oxford Street, di London. (ilustrai).

Seorang wanita yang mengenakan pelindung wajah dan masker untuk menahan penyebaran virus corona berjalan melewati department store Debenhams, yang sedang dalam proses ditutup, di Oxford Street, di London. (ilustrai).

Foto: AP/Matt Dunham
Beberapa negara menutup perjalanannya ke Inggris dan melarang pelancong Inggris masuk

REPUBLIKA.CO.ID, LONDON -- Jepang, Spanyol, Prancis, Swedia, dan Kanada telah menemukan sejumlah infeksi yang melibatkan varian baru dari SARS-CoV-2 (Covid-19). Kasus-kasus tersebut terdeteksi telah terkait dengan perjalanan dari Inggris, tempat virus varian baru itu pertama kali terdeteksi.

Penyebaran varian baru ini sangat cepat sehingga menyebabkan lockdown ketat di London dan beberapa wilayah di Inggris selatan pada pekan ini. Beberapa negara juga telah menutup perjalanannya ke Inggris dan melarang pelancong dari Inggris masuk.

Seperti dilansir laman New York Times, sejauh ini, varian virus corona dari Inggris itu telah didiagnosis pada tujuh orang di Jepang. Seluruh kasus baru saja bepergian dari Inggris atau pernah berhubungan dengan seseorang yang pernah melakukannya.

Penemuan kasus dari infeksi varian baru virus corona di Jepang mendorong negara tersebut menutup perbatasannya untuk semua entri baru oleh orang asing bukan penduduk. Larangan itu akan mulai berlaku tengah malam pada Senin (28/12) waktu setempat dan berlangsung hingga akhir Januari.

Di Spanyol, varian itu ditemukan di wilayah ibu kota pada Sabtu (26/12). Pejabat kesehatan daerah, Antonio Zapatero mengatakan bahwa empat kasus telah dikonfirmasi di Madrid, sementara tiga lainnya dianggap mencurigakan. Setidaknya dua kasus melibatkan orang yang baru-baru ini berkunjung ke Inggris dan kemudian dinyatakan positif di Madrid, serta beberapa kerabat mereka.

Sementara itu, menurut Kementerian Kesehatan Prancis, pihaknya mencatat kasus pertama varian baru menyebar cepat dari virus corona sendiri di Prancis. Para pejabat mengatakan, pasien adalah warga negara Prancis yang tinggal di Inggris yang telah melakukan perjalanan dari London ke Tours, kota di Prancis tengah pada 19 Desember.

Di Swedia, pejabat kesehatan mengumumkan bahwa kasus varian baru telah terdeteksi setelah seorang pelancong mengunjungi Sormland, dekat Stockholm dari Inggris selama Natal. Menurut Badan Kesehatan Masyarakat Swedia, belum ada kasus tambahan yang terdeteksi lebih jauh.

Pejabat kesehatan di Ontario, Kanada juga telah mengkonfirmasi dua kasus varian baru SARS-CoV-2 di provinsi tersebut. Kedua kasus adalah pasangan dari Durham, sekitar 90 mil barat laut Toronto. Pasangan itu tidak memiliki riwayat perjalanan, paparan, atau kontak berisiko tinggi.

Beberapa varian lain yang mengkhawatirkan juga telah diidentifikasi, termasuk satu di Afrika Selatan dan satu lagi di Nigeria. Inggris mengatakan pada Kamis lalu bahwa mereka akan melarang perjalanan dari Afrika Selatan setelah sekretaris kesehatan Inggris, Matt Hancock, mengatakan dua orang dipastikan terinfeksi varian yang muncul di sana.

Jerman, Belanda, Lebanon, Australia dan Singapura telah mengidentifikasi infeksi dengan varian baru tersebut. Sementara Denmark, yang memiliki pengawasan genom yang lebih luas daripada banyak negara lain, mendeteksi 33 kasus varian dari 14 November hingga 14 Desember.

AS belum melaporkan kasus apa pun dari varian Inggris. Namun negara itu akan mewajibkan semua penumpang maskapai yang tiba dari Inggris untuk dites negatif untuk virus korona dalam 72 jam setelah keberangkatan mereka. Aturan tersebut akan mulai berlaku pada Senin besok.

Para ilmuwan merilis sebuah studi yang mengatakan, bahwa pihaknya tidak menemukan bukti bahwa varian tersebut lebih mematikan. Namun diperkirakan 56 persen lebih menular.

Mutasi virus adalah hal normal. Varian baru dari Inggris ini memiliki konstelasi 23 mutasi, beberapa di antaranya mungkin mengubah transmisibilitasnya. Pakar vaksin yakin bahwa vaksin yang tersedia akan dapat menutup varian baru, meskipun hal itu harus dikonfirmasi oleh eksperimen laboratorium yang sedang berlangsung.

Negara-negara anggota Uni Eropa dijadwalkan untuk mulai memvaksinasi virus pada Ahad. Hongaria mulai memberikan vaksin sehari lebih awal, pada Sabtu (26/12).

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA