Sunday, 3 Zulqaidah 1442 / 13 June 2021

Sunday, 3 Zulqaidah 1442 / 13 June 2021

Semakin Sedikit Orang Merasa Dekat dengan Parpol

Sabtu 26 Dec 2020 05:33 WIB

Rep: Inas Widyanuratikah/ Red: Hiru Muhammad

Personel Satpol PP mencopot bendera partai politik yang dipasang di Kabupaten Asmat, Papua, Minggu (6/12/2020). Kegiatan penertiban APK oleh Bawaslu Asmat yang melibatkan Satpol PP dibantu petugas kepolisian tersebut dilakukan karena telah memasuki masa tenang Pilkada Serentak 2020 yakni pada 6-8 Desember 2020.

Personel Satpol PP mencopot bendera partai politik yang dipasang di Kabupaten Asmat, Papua, Minggu (6/12/2020). Kegiatan penertiban APK oleh Bawaslu Asmat yang melibatkan Satpol PP dibantu petugas kepolisian tersebut dilakukan karena telah memasuki masa tenang Pilkada Serentak 2020 yakni pada 6-8 Desember 2020.

Foto: SEVIANTO PAKIDING/ANTARA
Di masa krisis seperti saat ini, masyarakat tidak banyak merasakan kehadiran parpol

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA--Direktur Eksekutif Parameter Politik Indonesia, Adi Prayitno mengatakan identitas kepartaian masyarakat Indonesia sejak 2017 menurun drastis. Jika dihitung sejak Juli 2017 sebanyak 29,4 persen orang merasa dekat dengan partai politik, dan menjadi 11,1 persen pada Agustus 2020.

"Sejak 2017 sampai Agustus 2020 memang agak terjun bebas. Orang yang merasa menjadi bagian dari partai itu cukup mengagetkan. Siklusnya relatif turun," kata Adi, dalam webinar, dipantau di Jakarta, Jumat (25/12).

Dosen Ilmu Politik FISIP UIN Jakarta ini menilai, situasi ini bisa menjadi kabar baik dan kabar buruk bagi partai politik. Kabar buruknya adalah, orang tidak mau diklaim menjadi bagian dari salah satu partai politik. Namun, kabar baiknya, partai politik bisa memanfaatkan hal ini untuk menarik perhatian masyarakat.

"Saat ini, iman politik masyarakat tidak kuat-kuat amat terhadap partai. Ini yang saya sebut sebagai ceruk pemilih," kata dia lagi.

Menurut Adi, ke depannya, partai politik harus lebih menunjukkan dirinya di masyarakat. Berdasarkan pengamatannya, kehadiran partai politik hanya dirasakan masyarakat ketika akan ada pilkada atau pemilu.

Bahkan, di masa krisis seperti pandemi Covid-19 saat ini, masyarakat tidak banyak merasakan kehadiran partai politik. Secara umum, masyarakat menilai kinerja partai politik cukup buruk.

Selain itu, rakyat juga menilai pergantian anggota DPR dan kepala daerah tidak mampu membawa perubahan bagi kehidupan masyarakat. Rakyat juga menangkap kesan partai politik hanya berorientasi kekuasaan, bukan pengabdian kepada masyarakat.

 

 

 

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA