Monday, 7 Ramadhan 1442 / 19 April 2021

Monday, 7 Ramadhan 1442 / 19 April 2021

Mesir Melarang Perayaan Tahun Baru

Kamis 24 Dec 2020 10:25 WIB

Rep: Mabruroh/ Red: Christiyaningsih

 Pekerja di sebuah pabrik yang memproduksi masker bedah, di Kairo, Mesir. Mesir melaporkan peningkatan kasus Covid-19 tertinggi dalam beberapa bulan. Ilustrasi.

Pekerja di sebuah pabrik yang memproduksi masker bedah, di Kairo, Mesir. Mesir melaporkan peningkatan kasus Covid-19 tertinggi dalam beberapa bulan. Ilustrasi.

Foto: EPA-EFE/Mohamed Hossam
Mesir melaporkan peningkatan kasus Covid-19 tertinggi dalam beberapa bulan

REPUBLIKA.CO.ID, KAIRO -- Mesir melaporkan peningkatan kasus Covid-19 tertinggi dalam beberapa bulan. Akibatnya, Pemerintah Mesir memutuskan melarang adanya perayaan tahun baru 2021.

"Perayaan dan kegiatan lain pada malam Tahun Baru tidak diizinkan sebagai bagian dari upaya berkelanjutan untuk memerangi pandemi," kata Perdana Menteri Mesir, Mustafa Madbouly dilansir Arab News, Kamis (24/12).

Pemerintah, kata Madbouly, akan mengikuti langkah-langkah untuk menghindari timbulnya keramaian, termasuk dengan melakukan larangan perayaan tahun baru. Menurut data Kementerian Kesehatan Mesir, lebih dari 911 kasus Covid-19 terkonfirmasi dengan 42 kematian. Karenanya, pihak berwenang mengatakan perayaan malam Tahun Baru akan dibatalkan.

Menteri Kesehatan Hala Zayed mengumumkan angka-angka tersebut dalam konferensi pers di Kairo pada Rabu (23/12). Penghitungan resmi mencatat jumlah kasus Covid-19 sebanyak 127.970 kasus dan ada 7.209 kematian.

Peningkatan itu terjadi di tengah peringatan berulang oleh pemerintah tentang gelombang kedua pandemi. Pihak berwenang juga telah mendesak orang-orang untuk mengambil tindakan pencegahan, termasuk memakai masker dan menjaga jarak.

Zayed menambahkan Mesir sedang berupaya untuk meningkatkan pasokan vaksin virus corona untuk negaranya. Mesir juga telah menandatangani kontrak untuk mendapatkan vaksin yang dikembangkan oleh China National Pharmaceutical Group (Sinopharm) pada 4 Desember dan mengharapkan pengiriman lebih lanjut setelah menerima batch pertama awal bulan ini

"Staf medis dan penderita penyakit kronis akan mendapat prioritas," kata Zayed.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA