Kamis 24 Dec 2020 11:38 WIB

Kematian Aktivis Pakistan Naikkan Separatisme di Balochistan

Kematian aktivis perempuan Pakistan picu protes kelompok pro-kemerdekaan Balochistan

Rep: deutsche welle/ Red: deutsche welle
Abdul Ghani Kakar/DW
Abdul Ghani Kakar/DW

Karima Baloch, pegiat HAM berusia 37 tahun yang meninggal dunia dalam pengasingannya di Kanada merupakan tokoh Balochistan dan dikenal kritis terhadap militer Pakistan. Kematiannya mengundang aksi protes di Quetta, ibu kota provinsi Balochistan yang sejak lama mengimpikan kemerdekaan.

Ratusan demonstran memenuhi jalan sembari membentangkan spanduk bertuliskan "Hentikan Genosida Etnis Baloch”. Mereka menuntut keadilan bagi kematian Karima yang dicurigai sebagai pembunuhan.

Perempuan pegiat HAM itu dikabarkan menghilang pada Minggu (20/12) dan ditemukan tak bernyawa di pusat kota Toronto sehari kemudian. Kepolisian Toronto memastikan tidak menemukan kejanggalan pada kematian Karima.

"Kasus ini diselidiki sebagai kematian non-kriminal dan sejauh ini tidak ditemukan adanya indikasi yang mencurigakan,” kata juru bicara kepolisian, Caroline de Kloet, seperti dilansir kantor berita AP.

Karima, yang juga dikenal dengan nama Mehrab, mendapatkan suaka di Kanada pada 2016. Polisi mengatakan, dia dikenal sering mengunjungi kawasan pantai Toronto, di mana dia ditemukan tidak bernyawa.

Meski diklaim normal, kepolisian tidak menjelaskan apa yang menjadi penyebab kematian perempuan muda tersebut.

Separatisme Balochistan

Selama bertahun-tahun, Karima menggugat aksi dinas rahasia Pakistan yang sering dituduh menghilangkan tokoh etnis Baloch, guna meredam separatisme.

Disclaimer: Berita ini merupakan kerja sama Republika.co.id dengan deutsche welle. Hal yang terkait dengan tulisan, foto, grafis, video, dan keseluruhan isi berita menjadi tanggung jawab deutsche welle.
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement