Wednesday, 13 Zulqaidah 1442 / 23 June 2021

Wednesday, 13 Zulqaidah 1442 / 23 June 2021

LIPSUS: Mata-Mata Super Israel yang Tewas di Tiang Gantung

Rabu 23 Dec 2020 06:15 WIB

Rep: Dwina Agustin/ Red: Teguh Firmansyah

Eli Cohen

Eli Cohen

Foto: saveisrael.com
Cohen diajarkan tentang Islam agar mudah berbaur.

REPUBLIKA.CO.ID, TEL AVIV -- Nama Eli Cohen menjadi sorotan kembali setelah serial enam episode Netflix berjudul The Spy rilis tahun lalu. Dia menjadi salah satu agen Israel yang berhasil menyusup dengan sukses ke lingkaran dalam Suriah dan mengeruk banyak informasi penting.

Keterlibatan Eli Cohen atau bernama lengkap Eliahu ben Shaoul Cohen di dalam misi ke Suriah saat dia bergabung dengan gerakan Zionis di Mesir saat berusia tujuh tahun. Dikutip dari britannica, dia melakukan perjalanan ke Israel untuk kursus pelatihan spionase singkat pada 1955 dan kembali ke Mesir pada tahun berikutnya.

Tapi, pria kelahiran Mesir dari keturunan Yahudi Suriah ini harus meninggalkan Mesir saat terjadi Krisis Suez dan menetap di Israel pada 1957. Dengan kemampuan berbahasa Arab, Prancis, dan Ibrani, yang fasih, dia dipekerjakan sebagai penerjemah untuk intelijen militer. Namun dia menolak tawaran untuk dipindahkan ke Unit 188 Aman atau singkatan Ibrani untuk intelijen militer.

Saat ketegangan perbatasan dengan Suriah meletus pada Mei 1960, tim spionase di Unit 188 sangat membutuhkan mata-mata di Damaskus. Cohen adalah orang yang tepat untuk pekerjaan itu, meski pada awalnya dia menolak permintaan yang berulang tetapi akhirnya tawaran itu pun diterima.

Baru pada Februari 1961, Cohen tiba di Argentina, membawa paspor negara Eropa dengan nama Kamal Amin Thaabet yang merupakan pengusaha Suriah lahir di Lebanon. Dengan pembekalan selama setengah tahun sebelum keberangkatan, dia diajarkan tentang Islam dan berubah menjadi Muslim untuk bisa berbaur dengan sasarannya.

Selama beberapa bulan Cohen berbaur dengan banyak pengusaha Arab di Amerika Selatan dan menjalin hubungan dengan anggota masyarakat Suriah yang kaya dan berpengaruh di sana. Baru satu tahun kemudian, dia pindah ke Beirut dan menjadi orang baru yang menarik di kota karena direkomendasikan oleh semua orang di Buenos Aires.

Salah satu yang tertarik dengan sosok Cohen atau Thaabet adalah atase militer Suriah, Amin al-Hafez, yang kemudian menjabat sebagai presiden Suriah. Dia pun dapat dengan mudah mengakses lingkaran kekuasaan tertinggi di Suriah. Dia segera mulai mengirimkan informasi tentang rencana militer Suriah ke Israel.

Pekerjaan spionase Cohen menjadi semakin penting ketika seorang junta Baʿthist yang mencakup beberapa rekannya dari Argentina merebut kekuasaan di Suriah pada 1963. Pemimpin kudeta, Amin al-Hafez, sangat dekat dengan Cohen.

Seperti dikutip dari Jerusalem Post, al-Hafetz mempertimbangkan Cohen untuk mengangkatnya sebagai wakil menteri pertahanan. Dia menerima pengarahan militer rahasia dan dibawa dalam tur ke benteng Suriah di Dataran Tinggi Golan.

Cohen pun berhasil menghafal lokasi semua bunker dan artileri Suriah. Dia mampu menggambarkan penempatan pasukan di sepanjang perbatasan secara rinci dan dapat melengkapi daftar beberapa pilot Suriah dan sketsa akurat dari senjata yang dipasang di pesawat tempur mereka.

Atas hasil pemantauan itu, Cohen mengirim data ke Tel Aviv dengan mengetuk titik kode Morse dan tanda hubung pada kunci telegrafnya. Intelijen Israel bisa mendapatkan gambaran bagus tentang negara musuh yang tampaknya tidak bisa ditembus

Tapi, sepandai-pandainya tupai melompat, akhirnya jatuh juga. Itulah pribahasa yang cocok dengan nasib Cohen. Dia sering mengirim transmisi ke Israel setelah cuti dari kegiatan mata-mata. Dalam waktu lima minggu, dia mengirim 31 transmisi radio, petugas kasusnya di Tel Aviv seharusnya menahannya, tetapi tidak ada yang melakukannya. Materi yang dia kirim terlalu bagus untuk dihentikan.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA