Friday, 20 Zulhijjah 1442 / 30 July 2021

Friday, 20 Zulhijjah 1442 / 30 July 2021

Dinilai Berisiko, Kesepakatan Google dan Aramco Ditentang

Selasa 22 Dec 2020 09:48 WIB

Rep: Rahayu Subekti/ Red: Nidia Zuraya

Logo Google. Google dipastikan mulai menjual layanan komputasi awannya di Arab Saudi melalui kesepakatan dengan produsen minyak Aramco.

Logo Google. Google dipastikan mulai menjual layanan komputasi awannya di Arab Saudi melalui kesepakatan dengan produsen minyak Aramco.

Foto: AP
Aramco mengumumkan telah menandatangani perjanjian awal dengan Google pada 2018 lalu.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Google dipastikan mulai menjual layanan komputasi awannya di Arab Saudi melalui kesepakatan dengan produsen minyak Aramco. Hanya saja, banyak karyawan di Google yang menentang kesepakatan tersebut karena dinilai berisiko.

Dengan adanya kesepakatan tersebut dapat memberikan izin peraturan Google kepada Alphabet Inc untuk menyiapkan cloud region di wilayah Arab Saudi. Karyawan Google bahkan meminta perusahaan untuk tidak bekerja di industri minyak dan gas dengan alasan masalah lingkungan dan bekerja dengan rezim otoriter.

Baca Juga

Hanya saja, Kepala Eksekutif Unit Cloud Google, Thomas Kurian pada akhirnya tetap mendorong untuk melayani industri energi. Hal tersebut merupakan salah satu dari sedikit bidang yang ada di Google untuk mengejar Microsoft Corp dan Amazon.com Inc di pasar komputasi awan.

“Dengan perjanjian ini, teknologi dan solusi inovatif Google Cloud akan tersedia bagi pelanggan global dan perusahaan di Arab Saudi untuk memungkinkan mereka melayani konsumen dengan lebih baik,” kata Kurian dikutip dari Bloomberg, Senin (21/2).

Aramco menyiapkan pasar untuk layanan cloud di negara tersebut mencapai 30 miliar dolar AS tahun 2030. Google bermitra dengan Saudi Aramco Development Co. akan mencari perusahaan lokal untuk layanan cloud Google di negara tersebut termasuk Snap Inc.

Sebelumnya, Aramco mengumumkan telah menandatangani perjanjian awal dengan Google pada 2018 yang dipublikasikan oleh Putra Mahkota Mohammed bin Salman. Dalam perjalanan itu, putra mahkota mengunjungi Google dan bertemu dengan para eksekutif.

Beberapa bulan kemudian, pembunuhan Jamal Khashoggi, seorang kolumnis dan kritikus terkemuka Saudi memicu kecaman internasional yang meluas. Banyak bisnis menarik diri dari konferensi keuangan Saudi dan beberapa mempertanyakan investasi karena masalah hak asasi manusia.

Bahkan Badan Intelijen Amerika Serikat, Central Intelligence Agency (CIA), melakukan penyelidikan dan mengklaim bahwa putra mahkota memerintahkan pembunuhan tersebut. Kabar tersebut membuat hubungan antara Arab Saudi dan AS menjadi tegang.

Juru bicara Google menegaskan, pekerjaan apa pun dari unit cloud, perusahaan akan terus mematuhi prinsip AI. Selain itu, kemitraan Aramco tidak melibatkan layanan apapun untuk memfasilitasi ekstraksi minyak.

Sementara itu, mantan peneliti Google, Jack Poulson khawatir layanan cloud Google di Arab Saudi dapat digunakan untuk mengawasi warga negara dan mengurangi kebebasan berekspresi. “Google tidak bertanggung jawab untuk melakukan ini tanpa beberapa klarifikasi tentang cakupannya,” ungkap Paulson.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA