Friday, 11 Ramadhan 1442 / 23 April 2021

Friday, 11 Ramadhan 1442 / 23 April 2021

Studi Ungkap Alpukat Bantu Tingkatkan Kesehatan Usus

Selasa 22 Dec 2020 09:33 WIB

Rep: Puti Almas / Red: Ichsan Emrald Alamsyah

(Foto: buah alpukat). Makan alpukat sebagai bagian dari diet harian ternyata mampu meningkatkan kesehatan usus. Dalam sebuah studi baru dari University of Illinois, alpukat adalah makanan sehat yang tinggi serat makanan dan lemak tak jenuh tunggal.

(Foto: buah alpukat). Makan alpukat sebagai bagian dari diet harian ternyata mampu meningkatkan kesehatan usus. Dalam sebuah studi baru dari University of Illinois, alpukat adalah makanan sehat yang tinggi serat makanan dan lemak tak jenuh tunggal.

Foto: Pixabay
Selain mengenyangkan, alpukat mempengaruhi mikroba usus dan kebutuhan serat

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Makan alpukat sebagai bagian dari diet harian ternyata mampu meningkatkan kesehatan usus. Dalam sebuah studi baru dari University of Illinois, alpukat adalah makanan sehat yang tinggi serat makanan dan lemak tak jenuh tunggal.

“Kami tahu makan alpukat membantu Anda merasa kenyang dan mengurangi konsentrasi kolesterol darah, tapi kami tidak tahu bagaimana hal itu memengaruhi mikroba usus, dan metabolit yang dihasilkan mikroba," kata Sharon Thompson, mahasiswa pascasarjana di Division of Nutritional Sciences di University of Illinois dan penulis utama studi, yang diterbitkan dalam Journal of Nutrition, dilansir News Medical, Kamis (17/12). 

Para peneliti menemukan bahwa orang yang makan alpukat setiap hari memiliki lebih banyak mikroba usus yang memecah serat dan menghasilkan metabolit yang mendukung kesehatan usus. Mereka juga memiliki keragaman mikroba yang lebih besar dibandingkan dengan orang yang tidak mengkonsumsi alpukat dalam penelitian tersebut.

Metabolit mikroba adalah senyawa hasil produksi mikroba yang mempengaruhi kesehatan. Konsumsi alpukat mengurangi asam empedu dan meningkatkan asam lemak rantai pendek. Perubahan ini berkorelasi dengan hasil kesehatan yang bermanfaat. 

Studi melibatkan 163 orang dewasa berusia antara 25 dan 45 tahun dengan kelebihan berat badan atau obesitas, yang didefinisikan memiliki BMI minimal 25 kg / m2, namun sehat. Mereka menerima satu kali makan per hari untuk dikonsumsi sebagai pengganti sarapan, makan siang, atau makan malam.

Satu kelompok mengonsumsi alpukat setiap kali makan, sedangkan kelompok kontrol mengonsumsi makanan serupa tetapi tanpa alpukat. Para peserta memberikan sampel darah, urin, dan feses selama studi 12 minggu tersebut. 

Para peserta juga melaporkan berapa banyak makanan yang mereka konsumsi dan setiap empat minggu mencatat semua yang mereka makan. Sementara penelitian lain tentang konsumsi alpukat berfokus pada penurunan berat badan, peserta dalam penelitian ini tidak disarankan untuk membatasi atau mengubah apa yang mereka konsumsi. 

Sebaliknya, mereka mengonsumsi makanan normal mereka dengan pengecualian mengganti satu kali makan per hari dengan makanan yang disediakan dalam penelitian. Tujuan dari studi ini adalah untuk mengeksplorasi efek konsumsi alpukat pada mikrobiota saluran cerna, 

"Tujuan kami adalah untuk menguji hipotesis bahwa lemak dan serat dalam alpukat secara positif mempengaruhi mikrobiota usus. Kami juga ingin mengeksplorasi hubungan antara mikroba usus dan hasil kesehatan," jelas Hannah Holscher, asisten profesor nutrisi di Department of Food Science and Human Nutrition, University of Illinois, sekaligus penulis senior studi tersebut.

Alpukat selama ini dikenal kaya akan lemak. Namun, para peneliti menemukan kelompok peserta yang mengkonsumsi alpukat mendapat sedikit lebih banyak kalori dibanding kelompok kontrol. Sedikit lebih banyak lemak yang dikeluarkan melalui tinja mereka. 

“Eksresi lemak yang sedikit lebih besar mengartikan para peserta penelitian menyerap lebih sedikit energi dari makanan yang mereka makan. Ini kemungkinan karena pengurangan asam empedu, yang merupakan molekul yang dikeluarkan oleh sistem pencernaan yang memungkinkan kita untuk menyerap lemak,” jelas Holscher lebih lanjut.

Holscher mengatakan tim peneliti menemukan jumlah asam empedu dalam feses lebih rendah dan jumlah lemak di feses lebih tinggi pada kelompok yang mengkonsumsi alpukat. Jenis lemak yang berbeda memiliki efek berbeda pada mikrobioma. 

Lemak dalam alpukat adalah lemak tak jenuh tunggal, yaitu lemak yang menyehatkan jantung. Holscher mengatakan kandungan serat larut juga sangat penting. 

Alpukat berukuran sedang menyediakan sekitar 12 gram serat, yang sangat membantu memenuhi jumlah yang disarankan yaitu 28 hingga 34 gram serat per hari. Kurang dari lima persen orang di Amerika yang dilaporkan mengonsumsi cukup serat. 

Kebanyakan orang mengonsumsi sekitar 12 hingga 16 gram serat per hari. Jadi, memasukkan alpukat ke dalam makanan Anda dapat membantu Anda lebih dekat untuk memenuhi rekomendasi serat. 

Konsumsi serat adalah penting untuk mikrobioma. Hoslcher mengatakan mikroba usus tertentu bisa memecah serat makanan. 

Alpukat adalah makanan padat energi, tetapi juga padat nutrisi, dan mengandung mikronutrien penting seperti kalium dan serat. Holscher mengatakan ini adalah buah yang dikemas dengan sangat baik yang mengandung nutrisi yang penting bagi kesehatan. 

“Studi kami menunjukkan bahwa kami dapat menambahkan manfaat untuk kesehatan usus ke daftar itu," kata Holscher.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA