Sunday, 27 Ramadhan 1442 / 09 May 2021

Sunday, 27 Ramadhan 1442 / 09 May 2021

China Ingatkan Warga yang Telah Divaksin Tetap Patuhi Prokes

Ahad 20 Dec 2020 01:35 WIB

Rep: Puti Almas/ Red: Endro Yuwanto

Vaksin (ilustrasi)

Vaksin (ilustrasi)

Foto: AP Photo/LM Otero
Tidak ada vaksin yang dapat memberikan perlindungan 100 persen dari virus.

REPUBLIKA.CO.ID, BEIJING -- Pemerintah China akan melakukan vaksinasi terhadap orang-orang yang dianggap berisiko tinggi terhadap infeksi virus corona jenis baru (Covid-19). Meski demikian, otoritas kesehatan memperingatkan bahwa siapapun yang telah mendapatkan vaksin harus tetap konsisten menggunakan masker dan menerapkan protokol kesehatan (prokes) lainnya yang ditetapkan selama pandemi.

Program vaksinasi darurat akan berlanjut di China selama periode musim dingin yang berlangsung mulai awal Desember 2020 ini. Direktur kelompok kerja penelitian dan pengembangan vaksin dewan negara, Zeng Yixin, mengatakan vaksinasi dilakukan pada kelompok orang yang dianggap paling rentan hingga pertengahan 2021.

“Selama musim dingin dan musim semi, melakukan pekerjaan vaksinasi virus corona baru di antara beberapa kelompok populasi kunci sangat penting untuk pencegahan epidemi,” ujar Yixin dalam sebuah pernyataan saat konferensi pers, dilansir RT, Sabtu (19/12).

Kelompok orang yang dianggap berisiko tinggi di antaranya adalah petugas medis, bea cukai, transportasi umum, dan pekerja lain yang berurusan dengan banyak orang. Program vaksinasi darurat dimulai di China pada Juli dan sejak itu, sekitar satu juta orang di negara Asia Timur ini telah menerima vaksinasi.

Orang-orang yang telah divaksinasi harus tetap mematuhi aturan jarak sosial, mencuci tangan secara rutin, dan memakai masker. Otoritas China mengatakan, vaksin yang digunakan efisien dan aman, meski belum memberi perlindungan 100 persen. “Tidak ada suntikan yang dapat memberikan perlindungan 100 persen dari virus,” jelas Yixin.

China memiliki beberapa vaksin yang sedang dikembangkan. Di antaranya adalah dari perusahaan farmasi Sinopharm dan Sinovac Biotech, yang digunakan dalam program vaksinasi darurat.

Vaksin yang dibuat oleh CanSino Biologics juga telah disetujui untuk digunakan militer China, tetapi belum diberi lampu hijau untuk digunakan oleh masyarakat umum. Meski demikian, Beijing yakin obat itu akan segera melalui prosedur persetujuan yang diperlukan.

"Jumlah kasus yang diperlukan untuk tahap sementara dari uji klinis fase tiga telah diperoleh," kata Zheng, tanpa menyebutkan secara jelas vaksin dari perusahaan mana yang telah mendekati akhir siklus uji coba.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA