Jumat 18 Dec 2020 09:20 WIB

Jenderal AS Temui Negosiator Taliban

Ketua Kepala Staf Gabungan AS bertemu dengan negosiator Taliban di Doha pekan ini

Rep: Kamran Dikarma/ Red: Christiyaningsih
Keluarga yang meninggalkan desa mereka setelah Taliban melancarkan serangan besar-besaran di berbagai distrik di provinsi Helmand, tinggal di tempat penampungan sementara di ibu kota provinsi Lashkargah, Helmand, Afghanistan, 20 Oktober 2020. Taliban telah melancarkan serangan skala besar pertamanya di ibu kota provinsi Helmand barat daya. di Afghanistan sejak penandatanganan perjanjian damai dengan Amerika Serikat pada akhir Februari.
Foto: EPA-EFE/WATAN YAR
Keluarga yang meninggalkan desa mereka setelah Taliban melancarkan serangan besar-besaran di berbagai distrik di provinsi Helmand, tinggal di tempat penampungan sementara di ibu kota provinsi Lashkargah, Helmand, Afghanistan, 20 Oktober 2020. Taliban telah melancarkan serangan skala besar pertamanya di ibu kota provinsi Helmand barat daya. di Afghanistan sejak penandatanganan perjanjian damai dengan Amerika Serikat pada akhir Februari.

REPUBLIKA.CO.ID, WASHINGTON -- Ketua Kepala Staf Gabungan (JCS) Amerika Serikat (AS) Jenderal Mark Milley bertemu dengan negosiator Taliban di Doha, Qatar, pekan ini. Dia mendesak kelompok tersebut untuk mengurangi aksi kekerasan dan bergerak maju mencapai solusi politik Afghanistan.

"Ketua membahas perlunya pengurangan segera kekerasan dan mempercepat kemajuan menuju solusi politik yang dinegosiasikan yang berkontribusi pada stabilitas regional serta melindungi kepentingan nasional AS," kata militer AS dalam sebuah pernyataan.

Baca Juga

Saat ini perwakilan Taliban dan Pemerintah Afghanistan sedang melakukan pembicaraan di Doha. Hal itu diharapkan dapat berjalan lancar guna mengakhiri konflik yang telah berlangsung selama 19 tahun. Sebelumnya Taliban telah mencapai kesepakatan damai dengan AS selaku sekutu utama Afghanistan.

Di bawah kesepakatan tersebut, Washington setuju untuk menarik pasukannya dari Afghanistan secara gradual. Pada 17 November lalu, AS mengumumkan akan secara tajam mengurangi jumlah personel militernya di Afghanistan dari 4.500 menjadi 2.500.

Pengumuman itu muncul karena telah terjadi peningkatan kekerasan di Afghanistan. Taliban terus melakukan serangan yang menargetkan para pemimpin pemerintah, pasukan keamanan, dan warga sipil.

sumber : Reuters
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement