Wednesday, 14 Jumadil Akhir 1442 / 27 January 2021

Wednesday, 14 Jumadil Akhir 1442 / 27 January 2021

Bank Dunia: Keterjangkauan Jadi Tantangan Pangan Indonesia

Kamis 17 Dec 2020 22:16 WIB

Rep: Adinda Pryanka/ Red: Fuji Pratiwi

Tenaga pelaksana gizi desa mengenalkan jenis sayuran dan buah bergizi (ilustrasi). Bank Dunia menyebutkan, tantangan ketahanan pangan Indonesia akan berhubungan dengan peningkatan keterjangkauan dan ketahanan gizi.

Tenaga pelaksana gizi desa mengenalkan jenis sayuran dan buah bergizi (ilustrasi). Bank Dunia menyebutkan, tantangan ketahanan pangan Indonesia akan berhubungan dengan peningkatan keterjangkauan dan ketahanan gizi.

Foto: Antara/Rahmad
Harga pangan di Indonesia termasuk yang tertinggi dibandingkan negara sepadannya.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Bank Dunia menyebutkan, tantangan ketahanan pangan Indonesia akan berhubungan dengan peningkatan keterjangkauan dan ketahanan gizi. Khususnya untuk segmen masyarakat yang lebih miskin.

Harga pangan di Indonesia, dinilai Bank Dunia, termasuk yang tertinggi dibandingkan negara sepadannya. Selain biaya produksi, harga pangan tinggi karena berbagai faktor di luar pertanian seperti pembatasan perdagangan domestik dan internasional. Selain itu, biaya pemrosesan terbilang tinggi, pun dengan distribusi dan pemasarannya.

Dengan kondisi tersebut, Kepala Perwakilan Bank Dunia untuk Indonesia Satu Kahkonen menuturkan, tantangan ketahanan pangan di Indonesia bukanlah dari sisi ketersediaan, melainkan keterjangkauan makanan bergizi

Baca Juga

"Indonesia mengalami tantangan makanan bergizi lebih banyak dinikmati mereka yang mampu membeli makanan dan tidak oleh mereka yang kelompok miskin," ujarnya dalam Launch Virtual Indonesia Economic Prospects (IEP) December 2020, Kamis (17/12).

Dibandingkan negara lain di kawasan, pola makan Indonesia juga menunjukkan diversifikasi yang terbatas dan ketersediaan mikronutrien yang terbatas. Misalnya, Indonesia menempati peringkat rendah dunia dalam hal konsumsi sayur dan buah per kapita.

Bank Dunia menilai, pola makan rendah gizi yang relatif tidak terdiversifikasi memiliki konsekuensi kesehatan, kematian, dan sosial ekonomi yang signifikan. Anak-anak dan orang miskin secara tidak proporsional dipengaruhi oleh kondisi kesehatan terkait pola makan, seperti masalah stunting dan kelebihan berat badan.

"Indonesia juga menderita kerugian produktivitas yang tinggi karena penyakit yang ditularkan melalui makanan," tulis Bank Dunia dalam IEP December 2020.

 

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA