Monday, 24 Rajab 1442 / 08 March 2021

Monday, 24 Rajab 1442 / 08 March 2021

Efek Samping Terlalu Banyak Makan Protein

Kamis 17 Dec 2020 19:50 WIB

Rep: Santi Sopia/ Red: Qommarria Rostanti

Makanan mengandung protein hewani.

Makanan mengandung protein hewani.

Foto: Netdoctor
Asupan protein tidak boleh melebihi 1,6 gram per kilo berat badan setiap hari.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Dalam hal penurunan berat badan atau pembentukan otot, protein dianggap sebagai nutrisi terpenting. Selain membantu meningkatkan metabolisme, mengurangi nafsu makan, dan mengatur beberapa hormon, protein berkontribusi pada penurunan berat badan.

Tampaknya cukup tepat untuk memasukkan lebih banyak nutrisi ini ke dalam makanan ketika tujuannya adalah untuk mengelola berat badan. Akan tetapi terkadang konsumsi protein disalahartikan. Belum banyak yang mengetahui bahwa asupan protein yang berlebihan dapat memiliki efek samping.

Para ahli tidak menyarankan untuk meningkatkan asupan protein di atas tingkat yang direkomendasikan setiap hari karena dapat menyebabkan beberapa masalah kesehatan.

Asupan yang direkomendasikan atau AKG untuk protein bergantung pada faktor-faktor seperti usia, jenis kelamin, tingkat aktivitas fisik, kehamilan, dan menyusui. Secara umum, orang dewasa normal disarankan untuk makan 0,8 gram protein per kilogram berat badan setiap hari.

Jika seseorang melakukan aktivitas fisik tingkat sedang hingga intens, maka jumlah asupan protein dapat berkisar antara 1,3 gram hingga 1,6 gram. Bagaimanapun, asupan protein tidak boleh melebihi 1,6 gram per kilo berat badan setiap hari.

Jika melewati batas tersebut dapat menyebabkan beberapa komplikasi terkait kesehatan. Berikut lima hal yang bisa terjadi jika mengonsumsi terlalu banyak protein, dilansir di Times of India, Kamis (17/12):

1. Bau mulut

Membatasi asupan karbohidrat dan meningkatkan asupan protein dapat menyebabkan bau mulut. Ini terjadi karena saat kekurangan karbohidrat, tubuh  akan memasuki keadaan ketosis metabolisme. Ini mulai menghasilkan energi dari sumber lain, yang mengarah ke produksi bahan kimia dan mengeluarkan bau tidak sedap.

2. Sembelit

Protein tinggi dan diet rendah karbohidrat juga berarti lebih sedikit asupan serat. Nutrisi ini melewati tubuh tanpa tercerna, menjaga sistem pencernaan bersih dan sehat serta memudahkan buang air besar. Jadi, mengurangi asupan serat bisa memicu masalah pencernaan dan sembelit. Jika makan terlalu banyak produk susu, juga dapat menyebabkan diare.

3. Brain fogging

Gangguan otak atau merasa pusing adalah tanda umum lainnya yang terlihat pada orang yang mengonsumsi protein dalam jumlah tinggi. Untuk makan lebih banyak protein, perlu mengurangi asupan karbohidrat guna menjaga jumlah kalori. Alhasil rendah karbohidrat membuat otak mendapatkan lebih sedikit gula, sehingga menyebabkannya menyusut, dan merasa pusing di kepala. Karbohidrat adalah sumber energi utama untuk otak dan kekurangan nutrisinya dalam tubuh dapat memengaruhi tingkat konsentrasi dan suasana hati.

4. Dehidrasi

Sebuah studi pada 2002 mengungkapkan bahwa peningkatan asupan protein dapat menurunkan tingkat hidrasi. Dehidrasi disebabkan oleh ginjal yang harus bekerja lebih keras untuk menghilangkan kelebihan protein dan sisa nitrogen dari metabolisme protein. Akhirnya hal ini akan membuat terlalu banyak buang air kecil, semakin merasa haus dan dalam jangka panjang juga dapat berdampak pada ginjal.

5. Penambahan berat badan

Meskipun alasan meningkatkan asupan protein adalah untuk mengurangi berat badan, sayangnya terlalu banyak asupan kuatru dapat membuat tubuh bertambah gemuk. Tapi ini hanya untuk jangka pendek. Kelebihan protein yang dikonsumsi umumnya disimpan di dalam tubuh, sedangkan kelebihan asam amino nya akan dikeluarkan. Ini dapat menyebabkan penambahan berat badan sementara.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA