Tuesday, 12 Zulqaidah 1442 / 22 June 2021

Tuesday, 12 Zulqaidah 1442 / 22 June 2021

Warga Tahan Belanja, Penjualan Ritel AS Turun 1,1 Persen

Kamis 17 Dec 2020 08:16 WIB

Rep: Iit Septyaningsih/ Red: Friska Yolandha

Warga Amerika Serikat (AS) menahan pengeluaran selama awal musim belanja liburan. Hal ini menjadi tanda yang meresahkan pengecer dan perekonomian AS.

Warga Amerika Serikat (AS) menahan pengeluaran selama awal musim belanja liburan. Hal ini menjadi tanda yang meresahkan pengecer dan perekonomian AS.

Foto: EPA-EFE/JASON SZENES
Penjualan ritel AS turun 1,1 persen dalam penyesuaian musiman pada November.

REPUBLIKA.CO.ID, NEW YORK -- Warga Amerika Serikat (AS) menahan pengeluaran selama awal musim belanja liburan. Hal ini menjadi tanda yang meresahkan pengecer dan perekonomian AS. 

Departemen Perdagangan AS mengatakan, penjualan ritel AS turun 1,1 persen dalam penyesuaian musiman pada November. Penurunan itu menjadi yang terbesar dalam tujuh bulan, bahkan lebih curam dari yang diperkirakan para analis Wall Street. 

Laporan tersebut menunjukkan awal yang lemah bagi musim belanja liburan yang sangat penting. Biasanya dapat mencapai seperempat atau lebih dari penjualan tahunan pengecer. Hal ini jiga menjadi tanda lain kalau pandemi memperlambat ekonomi AS, sebab pengecer menghadapi pembatasan lebih ketat dan orang menjauh dari toko. 

Departemen Perdagangan AS pada Rabu lalu juga merevisi laporan Oktober. Mereka mengatakan, penjualan ritel turun sebesar 0,1 persen pada bulan itu, bukan naik 0,3 persen seperti yang dilaporkan sebelumnya. 

Pengecer telah mencoba membuat orang berbelanja lebih awal dengan Amazon, Best Buy, Walmart, dan lainnya. Mereka menawarkan penawaran liburan pada Oktober. 

Namun Black Friday juga gagal. Biasanya hari tersebut menjadi salah satu hari belanja tersibuk pada musim itu. 

Kini, pembeli kebanyakan tinggal di rumah setelah pejabat kesehatan memperingatkan orang agar tidak berbelanja secara langsung. Pengecer mengikutinya dengan memberikan penawaran terbaik secara online. Menurut perusahaan data ritel Sensormatic Solutions, terdapat setengah dari jumlah orang berbelanja di toko pada Black Friday, dibandingkan tahun lalu. 

Ekonom memperkirakan, penjualan ritel turun lagi bulan ini, karena kasus virus Covid-19 melonjak, dan negara bagian menambahkan lebih banyak pembatasan. "Butuh keajaiban untuk menjaga penjualan ritel tetap positif pada Desember," ujar Kepala Ekonom Keuangan di Grup Keuangan Global MUFG Chris Rupkey, seperti dilansir AP News pada Kamis (17/12).

Ekonomi AS telah terhenti setelah rebound musim panas ini. Tepatnya setelah penutupan musim semi. 

Banyak warga AS mengurangi belanja setelah kehilangan dorongan mingguan sebanyak 600 dolar AS untuk melihat pengangguran yang berakhir selama musim panas. Jutaan orang tetap menganggur dan pertumbuhan perekrutan melambat pada bulan lalu. 

Hal itu menandakan, masyarakat di AS kurang bersedia berbelanja. Kepercayaan konsumen pun turun pada November. 

Departemen Perdagangan AS mengatakan, penjualan turun tajam pada semua jenis pengecer pada bulan lalu. Termasuk toko pakaian, elektronik, dan furnitur. Penurunan terbesar terjadi di departemen store yakni mencapai 7,7 persen, penjualan restoran juga turun sebesar 4 persen. 

Laporan pada Rabu lalu hanya mencakup sekitar sepertiga dari keseluruhan belanja konsumen. Layanan seperti potong rambut dan menginap di hotel yang terdampak parah akibat pandemi, tidak termasuk.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA