Rabu 16 Dec 2020 07:13 WIB

Harga Minyak Naik Saat Investor Fokus ke Vaksin

Investor mengabaikan pengetatan karantina wilayah di Eropa.

Harga minyak menguat pada akhir perdagangan Selasa (15/12), ketika investor fokus pada peluncuran vaksin Covid-19. Investor mengabaikan pengetatan karantina wilayah di Eropa dan perkiraan untuk pemulihan permintaan bahan bakar yang lebih lambat dari perkiraan.
Foto: AP Photo/Charlie Riedel
Harga minyak menguat pada akhir perdagangan Selasa (15/12), ketika investor fokus pada peluncuran vaksin Covid-19. Investor mengabaikan pengetatan karantina wilayah di Eropa dan perkiraan untuk pemulihan permintaan bahan bakar yang lebih lambat dari perkiraan.

REPUBLIKA.CO.ID, NEW YORK -- Harga minyak menguat pada akhir perdagangan Selasa (15/12), ketika investor fokus pada peluncuran vaksin Covid-19. Investor mengabaikan pengetatan karantina wilayah di Eropa dan perkiraan untuk pemulihan permintaan bahan bakar yang lebih lambat dari perkiraan.

Minyak mentah berjangka Brent untuk pengiriman Februari naik 47 sen atau 0,9 persen, menjadi menetap di 50,76 dolar AS per barel. Sementara itu, minyak mentah berjangka AS West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Januari ditutup pada 47,62 dolar AS per barel, naik 1,3 persen atau 63 sen.

Amerika Serikat mulai memvaksinasi orang pada Senin (14/12) ketika jumlah kematian Covid-19 di negara itu melewati angka 300.000. Inggris dan Kanada juga mulai melakukan penyuntikan.

"Pasar minyak mentah terus memanfaatkan prospek masa depan dari periode pasca pandemi, yang bisa terjadi secepat musim panas mendatang," kata John Kilduff, mitra di Again Capital di New York.

Produksi minyak mentah naik 3,2 persen tahun-ke-tahun di China pada November, sebuah rekor. Itu membantu sentimen investor tentang kenaikan permintaan bahan bakar yang akan datang, kata Phil Flynn, analis senior di Price Futures Group di Chicago. China telah menjadi salah satu negara langka di mana permintaan minyak telah pulih sepenuhnya dari awal tahun ini.

“Orang-orang akan berasumsi bahwa lonjakan permintaan minyak sudah dekat,” kata Flynn.

Namun, Badan Energi Internasional (IEA) mengatakan pada Selasa bahwa dampak vaksin terhadap permintaan masih beberapa bulan lagi. Sementara OPEC mengatakan pada Senin (14/12) bahwa permintaan minyak akan naik lebih lambat dari yang diperkirakan.

Brent mencapai 51,06 dolar pada 10 Desember, tertinggi sejak Maret. Ini didukung oleh persetujuan vaksin, bahkan saat tingkat infeksi melonjak di sebagian besar wilayah di seluruh dunia.

London meningkatkan aturan pandemi yang mewajibkan bar dan restoran tutup. Sementara Italia sedang mempertimbangkan langkah-langkah yang lebih ketat selama Natal, dan Jerman kemungkinan akan lockdown hingga awal 2021.

sumber : Antara
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement