Sunday, 12 Safar 1443 / 19 September 2021

Sunday, 12 Safar 1443 / 19 September 2021

Rouhani: Program Rudal Balistik Iran tak Bisa Dinegosiasikan

Selasa 15 Dec 2020 10:27 WIB

Rep: Kamran Dikarma/ Red: Nur Aini

Presiden Iran Hassan Rouhani

Presiden Iran Hassan Rouhani

Foto: EPA-EFE/IRAN PRESIDENTIAL OFFICE
Menurut Rouhani, Biden belum memberi sinyal kesepakatan baru terkait nuklir

REPUBLIKA.CO.ID, TEHERAN -- Presiden Iran Hassan Rouhani mengatakan program rudal balistik negaranya adalah hal yang tak dapat dinegosiasikan. Dia menyebut presiden terpilih Amerika Serikat (AS) Joe Biden sangat menyadari hal itu.

“Amerika telah mencoba selama berbulan-bulan untuk menambahkan masalah misil (ke pembicaraan kesepakatan nuklir) dan ini ditolak. (Presiden Donald) Trump tidak mendapat informasi dan tidak tahu tentang masalah tersebut, tetapi Biden sangat menyadari detail kesepakatan itu," kata Rouhani dalam konferensi pers pada Senin (14/12).

Baca Juga

Menurut Rouhani, sejauh ini, Biden belum memberi sinyal tentang harus adanya kesepakatan baru terkait perjanjian nuklir. "Saya belum mendengar Biden mengatakan bahwa kami harus mencapai kesepakatan lain untuk kembali ke kesepakatan nuklir, itulah yang dikatakan Trump," ujarnya.

Sebelumnya, Rusia menyatakan menolak usulan untuk merevisi kesepakatan nuklir Iran 2015 atau Joint Comprehensive Plan of Action (JCPOA). Moskow menyalahkan AS atas situasi yang berkenaan dengan JCPOA.

"JCPOA tidak boleh direvisi," kata Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov saat memberikan wawancara virtual kepada koresponden Islamic Republic of Iran Broadcasting (IRIB) dan Islamic Republic News Agency (IRNA) melalui webinar pada Sabtu (12/12) pekan lalu.

Pada kesempatan itu, dia menegaskan dukungan Rusia atas sikap Iran yang juga enggan JCPOA direvisi. "Ada konsensus bahwa situasi saat ini di JCPOA adalah karena penarikan sepihak AS dari kesepakatan dan pengenaan sanksi (kembali terhadap Iran)," ujar Lavrov.

Rusia, kata Lavrov, yakin bahwa sikap AS terhadap JCPOA tidak konstruktif. Menurutnya, JCPOA adalah pencapaian besar yang membantu memecahkan pertanyaan terkait non-proliferasi senjata pemusnah massal. "Terlepas dari tindakan provokatif AS, Iran setia pada komitmennya, kesetiaan yang dipuji komunitas global," ucapnya.

Trump telah menarik negaranya dari JCPOA pada 2018. Trump menyebut JCPOA sebagai kesepakatan terburuk dalam sejarah karena tidak turut mengatur program rudal balistik Iran dan perannya di kawasan. Sejak mundur dari perjanjian itu, AS kembali menjatuhkan sanksi ekonomi berlapis terhadap Iran.

Trump kemudian meminta JCPOA direvisi dengan imbalan pencabutan sanksi, tapi Iran dengan tegas menolak. Joe Biden telah mengutarakan keinginannya untuk membawa AS bergabung kembali dengan JCPOA. Dia menyebut hal itu menjadi salah satu prioritas pemerintahannya yang akan datang. 

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA