Monday, 30 Sya'ban 1442 / 12 April 2021

Monday, 30 Sya'ban 1442 / 12 April 2021

Satgas Ingatkan Efek Long Covid pada Pasien Sembuh

Jumat 11 Dec 2020 19:25 WIB

Rep: Sapto Andika Candra/ Red: Nur Aini

Tim Komunikasi Publik Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19, Reisa Broto Asmoro.

Tim Komunikasi Publik Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19, Reisa Broto Asmoro.

Foto: @BNPB_Indonesia
Fenomena 'long Covid' atau efek jangka panjang akan dirasakan pasien meski sembuh

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Satgas Penanganan Covid-19 mengingatkan masyarakat terkait seriusnya ancaman infeksi virus corona. Juru Bicara Pemerintah untuk Penanganan Covid-19 Reisa Brotoasmoro menyebutkan, ada potensi munculnya fenomena 'long Covid' atau efek jangka panjang yang akan dirasakan pasien meski sudah dinyatakan sembuh dari Covid-19. 

"Para ahli juga khawatir dampak panjang covid di dalam tubuh orang yang tertular. Meski sembuh, namun dampak kesehatan pada penderita bisa bertahan lama. Kondisi long Covid-19, suatu gejala yang masih dialami peyintas, seperti gejala seperti saat terinfeksi covid," kata Reisa dalam keterangan pers, Jumat (11/12). 

Istilah long Covid ini memang semakin populer setelah ada hasil penelitian mengenai post-Covid syndrome. Kondisi itu menggambarkan adanya kondisi atau gejala yang muncul pada pasien yang sembuh dari Covid-19, dan bisa dialami selama berminggu-minggu atau bulan. Beberapa gejala yang dilaporkan, antara lain kelelahan kronis, sesak napas, jantung berdebar, nyeri sendi, nyeri otot, bahkan depresi. 

Baca Juga

"Ada fenomena yang disebut long Covid. Kita berharap vaksin dapat menurunkan kesakitan dan kematia dan efektif membangun kekebalan tubuh terhadap virus. Namun sekalipun vaksin ada, 3M lah tameng utama. Lindungi diri, lindungi keluarga, lindungi sesama," kata Reisa. 

Reisa juga menyampaikan, ada kecenderungan penerapan protokol kesehatan yang mulai kendur dan longgar di tengah masyarakat. Protokol kesehatan yang dimaksud, terutama penggunaan masker, kebiasaan mencuci tangan, dan penerapan jaga jarak. 

"Berdasarkan data ada kecenderungan penerapan 3M mulai kendur dan bahkan longgar. Akhirnya banyak terjadi penambahan jumlah kasus terutama sejak November hingga pekan pertama Desember," kata Reisa.

Reisa pun mengingatkan bahwa penerapan protokol kesehatan merupakan tameng utama untuk mencegah penularan Covid-19. Bahkan, ujarnya, bila program vaksinasi mulai berjalan pun, protokol kesehatan tetap menjadi senjata utama untuk mencegah penularan infeksi virus corona. 

"Pelaksanaan 3M dengan benar masih menjadi tantangan sampai saat ini. Maka jangan lagi kita menambah kasus baru. Kasus aktif kita semakin tinggi. Waspada fasilitas di RS bisa kewalahan, tenaga medis bisa kelabakan, dan prestasi kita menyembuhkan pasien akan dipertaruhkan," kata Reisa. 

 

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA