Thursday, 10 Rabiul Awwal 1444 / 06 October 2022

ADB Beri Fasilitas Bantu Akses dan Distribusi Vaksin Covid

Jumat 11 Dec 2020 18:27 WIB

Rep: Adinda Pryanka/ Red: Friska Yolandha

Pengendara melintas di dekat baliho sosialisasi manfaat vaksinasi di Jalan Asia Afrika, Senayan, Jakarta, Kamis (10/12). Bank Pembangunan Asia (ADB) meluncurkan inisiatif vaksin senilai 9 miliar dolar AS, Asia Pacific Vaccine Access Facility (APVAX). Inisiatif ini menawarkan dukungan cepat dan adil bagi negara berkembang anggotanya seiring upaya negara-negara tersebut untuk melakukan pengadaan dan penyediaan vaksin penyakit virus corona (Covis-19) yang efektif dan aman.

Pengendara melintas di dekat baliho sosialisasi manfaat vaksinasi di Jalan Asia Afrika, Senayan, Jakarta, Kamis (10/12). Bank Pembangunan Asia (ADB) meluncurkan inisiatif vaksin senilai 9 miliar dolar AS, Asia Pacific Vaccine Access Facility (APVAX). Inisiatif ini menawarkan dukungan cepat dan adil bagi negara berkembang anggotanya seiring upaya negara-negara tersebut untuk melakukan pengadaan dan penyediaan vaksin penyakit virus corona (Covis-19) yang efektif dan aman.

Foto: Prayogi/Republika
APVAX akan berperan penting dalam membantu negara berkembang mempersiapkan vaksinasi.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Bank Pembangunan Asia (ADB) meluncurkan inisiatif vaksin senilai 9 miliar dolar AS, Asia Pacific Vaccine Access Facility (APVAX). Inisiatif ini menawarkan dukungan cepat dan adil bagi negara berkembang anggotanya seiring upaya negara-negara tersebut untuk melakukan pengadaan dan penyediaan vaksin penyakit virus corona (Covis-19) yang efektif dan aman.

Presiden ADB Masatsugu Asakawa menjelaskan, di tengah persiapan berbagai negara berkembang anggota ADB untuk memvaksinasi masyarakatnya sesegera mungkin, negara-negara tersebut memerlukan pembiayaan agar dapat melakukan pengadaan vaksin. Pendanaan juga dibutuhkan untuk perencanaan dan kemampuan teknis yang sesuai agar dapat menjalankan proses vaksinasi secara aman, adil, dan efisien.

Baca Juga

"APVAX akan berperan penting dalam membantu negara berkembang anggota ADB menghadapi beragam tantangan tersebut, mengatasi pandemi, dan berfokus pada pemulihan ekonomi," katanya dalam keterangan resmi yang diterima, Jumat (11/12).

ADB mencatat, lebih dari 14,3 juta kasus positif telah teridentifikasi di kawasan Asia dan Pasifik dan menyebabkan lebih dari 200 ribu kematian. Seiring berlanjutnya pandemi, pertumbuhan ekonomi di kawasan Asia yang sedang berkembang diproyeksikan terkontraksi 0,4 persen pada 2020, kontraksi produk domestik bruto regional yang pertama sejak awal tahun 1960-an.

Mendorong akses yang aman, adil, dan efektif atas vaksin adalah prioritas tertinggi dalam upaya respons Covid-19 oleh ADB. Program vaksinasi dapat memutus rantai penularan virus, menyelamatkan nyawa, dan memitigasi dampak ekonomi negatif dari pandemi dengan mengembalikan kepercayaan bahwa masyarakat sudah dapat bekerja, bepergian, dan bersosialisasi lagi dengan aman.

APVAX memberikan kerangka menyeluruh dan plafon sumber daya guna mendukung akses vaksin bagi kawasan Asia yang sedang berkembang dengan menggunakan dua komponen yang saling melengkapi.

Pertama, Komponen Respons Cepat (Rapid Response Component) akan memberikan dukungan tepat waktu bagi diagnostik vaksin, pengadaan vaksin, dan transportasi vaksin dari tempat pembelian menuju negara berkembang anggota ADB.

Kedua, Komponen Investasi Proyek (Project Investment Component) akan mendukung investasi dalam berbagai sistem demi keberhasilan distribusi, penyampaian, dan administrasi vaksin, bersamaan dengan investasi terkait untuk peningkatan kapasitas, penjangkauan ke masyarakat, dan pengawasan. Hal ini dapat mencakup bidang-bidang seperti penyimpanan dan transportasi rantai dingin, kendaraan, sarana distribusi, fasilitas pemrosesan, dan investasi fisik lainnya. Komponen tersebut juga dapat digunakan untuk mengembangkan atau memperluas kapasitas manufaktur vaksin di negara tersebut.

Asakawa menuturkan, pembiayaan ADB untuk vaksin akan diberikan dalam koordinasi erat dengan mitra pembangunan lain. Di antaranya Bank Dunia, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), Covid-19 Vaccines Global Access Facility (COVAX), GAVI, serta berbagai mitra bilateral dan multilateral lainnya.

APVAX mendorong agar vaksin yang aman dan efektif dapat diakses secara adil agar vaksin dianggap layak untuk pembiayaan, vaksin tersebut harus memenuhi salah satu dari tiga kriteria. Yakni, pengadaannya dilakukan melalui COVAX, memperoleh prakualifikasi dari WHO, atau memperoleh izin dari Otoritas Regulator yang ketat.

Kriteria akses tambahan, seperti adanya kajian kebutuhan vaksin, rencana alokasi vaksin oleh negara berkembang yang bersangkutan, dan mekanisme untuk koordinasi secara efektif di antara mitra pembangunan juga membantu memastikan agar dukungan vaksin berdasarkan APVAX dapat dilaksanakan secara adil dan efektif.

ADB juga menyediakan Fasilitas Impor Vaksin (Vaccine Import Facility) senilai 500 juta dolar AS. Tujuannya, mendukung upaya negara berkembang anggota ADB dalam memperoleh vaksin yang aman dan efektif, beserta berbagai barang penunjang distribusi dan inokulasi.

Fasilitas ini adalah bagian dari Program Pembiayaan Perdagangan dan Pembiayaan Rantai Pasokan (Trade and Supply Chain Finance Program) dari ADB. Jaminan AAA yang tersedia melalui fasilitas impor vaksin dari program ini akan memitigasi risiko pembayaran dan mempermudah impor barang-barang tersebut.

Jaminan ini juga akan menggunakan kriteria kelayakan yang sama untuk vaksin seperti pada COVAX. Pembiayaan bersama (cofinancing) dengan mitra sektor swasta dapat memperbesar Fasilitas Impor hingga mampu mendukung vaksin dan impor terkait senilai 1 miliar dolar AS dalam waktu setahun.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA