Tuesday, 13 Jumadil Akhir 1442 / 26 January 2021

Tuesday, 13 Jumadil Akhir 1442 / 26 January 2021

Sering Minum Kopi, karena Suka atau Kecanduan?

Rabu 09 Dec 2020 15:25 WIB

Rep: Adysha Citra Ramadani/ Red: Qommarria Rostanti

(Foto: ilustrasi kopi)

(Foto: ilustrasi kopi)

Foto: Needpix
Yang mendorong mereka terus mengonsumsi kopi adalah ketergantungan terhadap kafein.

REPUBLIKA.CO.ID, BERLIN -- Minum kopi telah menjadi bagian dari keseharian banyak orang. Tak sedikit pula yang terbiasa minum kopi dalam jumlah banyak. Apa yang sebenarnya membuat orang-orang tak bisa lepas dari kopi?

Studi terbaru mengungkapkan, para pecinta kopi sebenarnya tidak begitu menyukai rasa kopi itu sendiri. Yang mendorong mereka untuk terus mengonsumsi kopi adalah ketergantungan terhadap kafein.

Dalam studi ini, tim peneliti asal Jerman menginvestigasi adiksi kafein terhadap beragam jenis peminum kopi. Tingkat konsumsi kopi para partisipan sangat beragam, mulai dari tingkat konsumsi rendah, sedang, hingga tinggi.

Sebanyak 24 orang partisipan masuk ke dalam kategori peminum kopi berat. Mereka bisa meminum kopi minimal tiga gelas per hari. Hasil studi menunjukkan bahwa peminum kopi berat cenderung memiliki keinginan meminum kopi yang lebih besar tanpa benar-benar menyukai rasa minuman itu sendiri.

"Data ini mengonfirmasi bahwa konsumsi kopi yang berat berkaitan dengan keinginan besar (untuk minum kopi) meski memiliki kesukaan yang rendah terhadap kopi," ujar tim peneliti dari Friedrich Schiller University Jena, seperti dilansir di NZHerald, Rabu (9/12).

Studi ini menunjukkan bahwa keinginan untuk minum kopi yang berulang tidak dipengaruhi oleh kesukaan terhadap minuman tersebut. Disosiasi ini dinilai dapat menjelaskan konsumsi kopi yang stabil dan meluas saat ini.

Tim peneliti menilai kopi dapat memunculkan semacam adiksi pada peminumnya. Adiksi ini bisa muncul pada orang-orang yang mengonsumsi kopi dalam jumlah besar.

"Perbedaan antara obat yang sangat adiktif (seperti kokain atau alkohol) dan senyawa dengan tingkat adiktif yang lebih rendah (seperti kafein) mungkin sebagian besarnya terletak pada kuantitatifnya daripada kualitatifnya," ujar tim peneliti.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA