Sunday, 12 Safar 1443 / 19 September 2021

Sunday, 12 Safar 1443 / 19 September 2021

Terdampak Pandemi, Uber Jual Mobil Otonom ke Startup

Rabu 09 Dec 2020 05:50 WIB

Rep: Adinda Pryanka/ Red: Nidia Zuraya

Layanan transportasi berbasis aplikasi Uber (ilustrasi).

Layanan transportasi berbasis aplikasi Uber (ilustrasi).

Foto: EPA
Uber akan memegang 26 persen saham perusahaan startup tersebut.

REPUBLIKA.CO.ID, KALIFORNIA – Perusahaan jaringan transportasi Uber menjual salah satu lini usahanya yang bergerak di bidang kendaraan otonom. Kebijakan ini dilakukan di tengah penurunan pendapatan Uber yang terpukul akibat pandemi virus corona.

Perusahaan teknologi kendaraan otonom yang masih berstatus perusahaan rintisan (start up), Aurora, akan mengakuisisi karyawan dan teknologi yang dimiliki Advanced Technologies Group milik Uber dalam transaksi saham. Rencana ini disampaikan perusahaan pada Senin (7/12).

Baca Juga

Uber juga akan menginvestasikan 400 juta dolar AS ke Aurora. Seperti dilansir di AP, Senin (7/12), CEO Uber Dara Khosrowshahi pun ikut bergabung dengan dewan direksi Aurora.

CEO Aurora Chris Urmson menjelaskan, setelah transaksi, Aurora akan memiliki valuasi 10 miliar dolar AS dan Uber akan memegang 26 persen saham perusahaan.

Urmson menuturkan, produk pertama yang ingin diproduksi Aurora adalah truk dan kargo. Tapi, perusahaan tetap fokus dalam mempercepat pengerjaan kendaraan ringan dan ride hailing. "Pada akhirnya, kami akan melihat kendaraan kami ditempatkan di jaringan Uber," katanya.

Uber tidak akan memiliki hak eksklusif sebagai perusahaan transportasi online untuk teknologi Aurora. Tapi, kedua perusahaan tersebut akan memiliki hubungan yang saling menguntungkan.

Uber yang berbasis di San Fransisco akan kehilangan bagian penting dari perusahaannya setelah pandemi memangkas tingkat keuntungannya dengan menekan permintaan terhadap jasa ride hailing. Sebelum pandemi, diketahui, Uber berupaya meningkatkan profitabilitas dengan berencana menggunakan kendaraan otonom untuk mengurangi biaya pengemudi yang tinggi.

Upaya perusahaan untuk mengembangkan kendaraan otonom rusak pada Maret 2018, ketika salah satu kendaraan uji cobanya menabrak dan membunuh seorang perempuan. Kejadian tersebut menjadi kematian pertama yang melibatkan teknologi otonom.

Urmson mengakui, Uber telah mengalami waktu yang sulit beberapa tahun terakhir. "Hal yang mengesankan bagi saya saat bertemu dengan tim (Uber) adalah seberapa banyak yang telah dipelajari tim dan keuletannya serta determinasi tim saat mereka datang ke pasar dengan cara yang bijaksana dan aman," katanya.

Aurora, berbasis di Mountain View, Kalifornia, dipimpin oleh mantan eksekutif Google, Tesla dan Uber. Aurora juga memiliki kemitraan dengan raksasa pengiriman Amazon dan perusahaan mobil Hyundai dan Kita, namun kemitraannya dengan Uber adalah hubungan resmi pertamanya dengan perusahaan ride hailing.

Pendiri dan CEO Fox Advisors Steven Fox menyebutkan, langkah ini akan membantu Uber menemukan jalan yang lebih cepat dalam mendapatkan profit tinggi. "Ini menjadi yang terbaik untuk mereka. Kemitraan menghilangkan hambatan keuntungan yang besar dan membuat mereka berada pada posisi strategis yang baik," tuturnya.

 

sumber : AP
BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA